24 Mei 2010
Pemimpin Mati Rasa: Sebuah Kado di Hari Kebangkitan Nasional
Jika kita cermati, gelar itu sangat pantas disandang para pemimpin elit di Negeri ini, mulai pemimpin di tingkat atas maupun dibawah baik di eksekutif, yudikatif dan legeslatif sudah mati rasa. Mereka bekerja siang malam seolah-olah bekerja untuk kepentingan rakyat, pada kenyataannya mereka bekerja untuk membela kepentingan diri sendiri dan kelompoknya saja, lihat bagaimana peresmian “Sekretariat Gabungan Koalisasi Parpol Pendukung Pemerintah” sebuah wadah berkumpulnya partai koalisi yang di ketua Presiden SBY dan wakilnya adalah ketum Golkar Aburizal Bakrie ujung-ujungnya demi membela kepentingan golongan dan melanggengkan kekuasaan partai koalisi, hal-hal seperti ini justru hanya akan menumbuhkembangkan oligarki kekuasaan dan mengkebiri demokrasi. Lihat juga kasus Century, parpol pendukung pemerintah beserta partai koalisi membela kebijakan itu dengan berbagai cara, meski jelas-jelas kebijakan itu merugikan uang rakyat trilyunan rupiah, mereka sibuk mem-back up pemerintah agar Presiden SBY tidak di makzulkan (baca; di impeachment) ditengah jalan para Menteri hasil koalisipun merapatkan barisan agar tidak di resufle karena mereka adalah aset parpol penyumbang dana terbesar dan merupakan mesin ATM-nya parpol, tidak ada dalam benak mereka memikirkan untuk mengembalikan dana para nasabah padahal para nasabah sangat menderita sekali dengan kasus perampokan di bank Century tersebut. Lihat juga kasus Susno Duadji seorang pejabat polisi aktif dengan pangkat Komisaris Jenderal (Komjen) dengan bintang tiga di pundaknya itu saja bisa dipenjara tidak berdaya melawan arogansi kekuasaan, apalagi masyarakat secara umum seperti kita pasti akan lebih dibuat tidak berdaya lagi, bagaimana elit POLRI mempertontonkan kesewenang-wenangannya agar tidak terbongkar kebobrokan di institusinya, ini adalah pertunjukan arogansi siapapun yang mencoba mereformasi institusi tempat sarang korupsi akan dikeroyok berjama’ah oleh para koruptor tersebut terutama yang berada di comfort zone yaitu zona nyaman menikmati kekayaan hasil korupsi, masalah serupa di Negeri ini masih ratusan bahkan ribuan yang tidak bisa di nalar oleh akal sehat manusia.
Kesalahan mendasar yang diperlihatkan oleh para elit kita asekarang dalah mereka tidak pernah melibatkan sifat-sifat mulia Tuhan dalam setiap urusannya, di dalam rapat, dalam bekerja, dalam mengambil keputusan dan kebijakan mereka melupakannya bahkan seakan-akan sifat-safat ketuhanan itu sengaja dibuang jauh, Pancasila sebagai dasar Negara telah mencantumkan sifat-sifat Mulia Tuhan dalam sila pertama sesungguhnya hal itu sebuah anugerah besar warisan para pendiri Negara ini yang meletakan sifat Mulia Tuhan dalam sila pertama. Sayang, sila pertama hanya simbol belaka yang harus di dewa-dewakan tapi tidak dilaksanakan. Menurut saya, seseorang sebelum menjadi pemimpin sebaiknya dia harus dikarantina terlebih dahulu selama 1 bulan penuh misalnya, khusus hanya mempelajari sila pertama saja yaitu sila yang mengandung sifat-sifat mulia Ketuhanan Yang Maha Esa, juga sebagai bekal tambahan mereka disuruh membaca dan mempelajari terlebih dahulu biografi para pemimpin pendahulunya agar terinspirasi dan mengambil suri tauladan sifat-sifat perjuangannya, seperti Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswanya, KH. Hasyim Asy’ari dengan organisasi kemasyarakatan NU & Laskar Hizbullahnya, KH Ahmad Dahlan dengan Gerakan Muhammadiyahnya, KH. Agus Salim, Moh. Yamin, Sri Sultan Hamengku Buwono IX ( ayah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X sekarang), dr Duewes Dekker, Budi Oetomo, dr. Wahidin, dr. Cipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansur, KH. Wahid Hasyim, , mereka semua adalah bangsawan yang melepaskan atributnya demi menjadi Bapak Bangsa yang tidak gila kekuasaan dan kemewahan, sayang sifat-sifat mulia para pemimpin pendahulu kita tidak ditiru oleh pemimpin setelahnya.
Kita ambil contoh sifat perjuangan dari satu pejuang saja dari beberapa pejuang Nasional diatas, yaitu sifat-sifat perjuangan Ki Hajar Dewantoro misalnya, saya memilih tokoh seperti beliau karena Ki Hajar Dewantoro dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan Bapak Kebangkitan. Jika saja seorang calon pemimpin negeri ini meniru sifat-sifat beliau alangkah indahnya kepemimpinan mereka, karena hati nurani pikiran dan perasaan mereka akan hidup, kebijakan dan keputusannya pun bisa dipastikan akan berpihak pada rakyat. Jika di Barat ada “Teori Domain” nya Benjamin S. Bloom yang terkenal dengan pembentukan kognitif, afektif dan psikomotorik, maka di Indonesia terkenal dengan teorinya Ki Hajar Dewantoro --nama aslinya Raden Mas Suwardi Suryoningrat--yang terkenal dengan konsep “Tringa” yaitu ngerti (mengetahui) ngroso (memahami) dan nglakoni (melakukan). Artinya, tujuan orang hidup pada dasarnya adalah meningkatkan pengetahuannya tentang apa yang dipelajarinya, mengasah rasa untuk meningkatkan sensifitas yang ada disekitarnya, serta melaksanakan ajaran yang ia telah ketahui sebelumnya. Kemudian konsep Tringa ini berkembang menjadi konsep “Trisakti Jiwa” yang terdiri dari cipta, rasa dan karsa. Maksudnya, untuk melaksanakan segala sesuatu maka harus ada kombinasi yang sinergis antara hasil oleh pikir, hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat didalam dirinya. Yang kemudian konsep Trisakti Jiwa ini berkembang lagi menjadi konsep “Trihayu” yaitu, memayu hayuning sariro, memayu hayuning bongso, dan memayu hayuning bawono. Maksudnya, apapun yang diperbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya dan juga bermanfaat bagi orang lain bagi manusia secara keseluruhan. Kemudian konsep Trihayu inilah yang mengilhami lahirnya konsep “Trilogi Kepemimpinan” yang merupakan bekal fardlu ‘ain bagi seseorang yang akan diberi amanat menjadi pimpinan di tingkat manapun, yaitu ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, maksudnya adalah ketika seseorang berada didepan maka ia harus mampu menjadi teladan yang baik, ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu mendorong orang-orang atau pihak-pihak yang dipimpinannya.menjadi berkembang lebih baik lagi.
Sebenarnya sifat-sifat mulia perjuangan dan konsep hidup seperti beliau ini yang seharusnya dimiliki oleh calon pemimpin bangsa ini, seperti kesahajaan, kedermawanan, ketauladanan dan kesederhanaan. Kesederhanaan bagi mereka pejuang pendahulu kita adalah lebih mulia lebih barokah dan tentu lebih merdeka, sebab tidak takut dicurigai, tidak takut kehilangan, tidak takut kecurian dst...hidup merdeka lahir batin itu jauh lebih sehat, dengan hidup sederhana kita akan lebih bisa merasakan penderitaan sesama, menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain serta terhindar dari penyakit mati rasa, karena banyak orang secara lahir hidup gemerlap penuh kemewahan tapi sejatinya batinnya menderita sekali, orang jawa bilang lebih baik mikul dhawet rengeng-rengeng dari pada numpak montor brebes mili…
Semoga tulisan sederhana ini menjadi inspirasi bagi pembaca budiman yang akan menjadi pemimipin di masa depan, dan semoga di hari Kebangkitan Nasional ini menjadikan hari bangkitnya kembali hati nurani para pemimpin kita agar sadar diri dari kedzaliman yang telah diperbuatnya dan berbuat lagi untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan, bukan hari Kebangkitan Nasional ini malah menjadi hari “Kebangkrutan Nasional” … Allahu a’lam
3 Mei 2010
PENDIDIKAN ISLAM: MENJAWAB TANTANGAN MANUSIA DI ABAD 21
A. Pendahuluan
Hari Senin 26 April kemarin ujian nasional (UNAS) tingkat SMA-MA diumumkan, suka cita dan duka nestapa mewarnai hasil pengumuman tersebut, siswa yang dinyatakan lulus meluapkan kegembiraannya dengan berbagai aksi, ada yang corat coret baju seragam, ada yang langsung sujud syukur, convoi sepeda motor, ada yang menangis histeris saking gembiranya dsb. Namun bagi siswa yang tidak lulus bak disambar petir bahkan seperti kiamat saja, mereka kebanyakan langsung pucat lemas, pingsan, stres bahkan ada yang bunuh diri karena tidak kuasa menahan kesedihan mendalam akibat dinyatakan tidak lulus unas.
Tahun ini ada 1,5 juta lebih siswa tingkat SMA-MA yang mengikuti ujian nasional, yang dinyatakan tidak lulus sekitar 154 ribu siswa atau 10,12 %. Siswa yang tidak lulus harus mengikuti unas ulangan yang akan dilaksanakan tanggal 10–14 Mei mendatang, dan sebanyak 267 sekolah siswanya tidak lulus sama sekali dari 16 ribu sekolah yang mengikuti unas (Jawa Pos, 27 April 2010).
Peristiwa tersebut tentu tidak kita inginkan bersama. Maka, guna menghindari hal demikian ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, lembaga pendidikan dan gurunya harus lebih serius, lebih giat dan lebih profesional dalam meningkatkan kualitas pendidikan dilingkungannya masing-masing, baik kualitas lembaga dalam memberikan pelayanan pendidikan, juga kualitas guru dalam peroses belajar mengajar harus selalu berkembang, kreatif, inovatif, profesional dan selalu memantau perkembangan demi perkembangan kualitas anak didiknya. Kedua, orang tua harus mulai sadar akan pentingnya pendidikan agama disamping pendidikan umum artinya anak harus dikenalkan dengan pendidikan agama (Islam) sejak usia dini sebagai kontrol, karena didalam unas hanya 6 matapelajaran yang diujikan yaitu matematika, fisika, biologi, kimia, bahasa inggris dan bahasa indonesia sedangkan pendidikan agama tidak ada, mungkin dianggap tidak penting. Ketiga, guru dan orang tua berkewajiban memantau dan memberikan perhatian yang lebih terhadap anak-anaknya dengan arahan dan belaian kasih sayang agar anak-anak merasa nyaman dan tentram dalam menghadapi berbagai macam ujian, tidak hanya ujian nasional saja akan tetapi ujian hidup sekalipun.
Dalam tulisan sederhana ini, penulis ingin memberi pencerahan tentang pentingnya pendidikan Islam sejak anak usia dini yang duduk berjajar berdampingan dengan ilmu pengetahuan lainnya agar mereka siap dalam menjawab tantangan yang teramat dahsyat di abad teknologi ini dengan memotret sisi-sisi kelam pendidikan di Indonesia sekarang.
B. Definisi Pendidikan dalam Perspektif Islam.
Dalam Khazanah pemikiran Pendidikan Islam, terutama karya-karya ilmiah berbahasa Arab, terdapat berbagai istilah yang dipergunakan oleh ahli bahasa dalam memberikan pengertian tentang “Pendidikan Islam” dan sekaligus diterapkan dalam konteks yang berbeda-beda.
Pendidikan Islam itu setidak-setidaknya tercakup dalam 8 pengertian (Hasan, 1997), yaitu: al-tarbiyah al-diniyah (pendidikan keagamaan), ta’lim al-din (pengajaran agama), al-ta’lim al-diny (pengajaran keagamaan), al-ta’lim al islamy (Pengajaran keislaman), tarbiyah al-muslimin (pendidikan orang-orang Islam), al-tarbiyah fi al-Islam (pendidikan dalam Islam), al-tarbiyah ‘inda al-muslimin (pendidikan dikalangan orang-orang Islam) dan al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islami).
Dalam berbagai literatur Islam, para ahli pendidikan biasanya lebih menyoroti istilah-istilah tersebut dari aspek perbedaan antara tarbiyah dan ta’lim, istilah tarbiyah lebih cocok digunakan untuk pendidikan Islam (al-Nakhlawy, 1979). Berbeda dengan Jalal (1977) dari hasil kajiannya disimpulkan bahwa istilah ta’lim lebih luas jangkauannya dan lebih umum sifatnya dari pada tarbiyah. Dikalangan penulis Indonesia, istilah pendidikan (tarbiyah) biasanya lebih diarahkan pada pembinaan watak, moral, sikap, kepribadian, atau lebih mengarah pada aspek afektif, sementara pengajaran atau ta’lim lebih diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau lebih menonjolkan dimensi kognitif dan psikomotor. Ada kajian lainnya yang berusaha membandingkan dua istilah tersebut dengan istilah ta’dib, sebagaimana yang dikemukakan oleh Syed Naquib al-Attas dalam tulisannya bahwa istilah ta’dib lebih tepat digunakan dalam konteks pendidikan Islam dan kurang setuju dengan istilah tarbiyah dan ta’lim. Namun istilah ta’dib yang ditawarkan oleh Naquib kurang popular dikalangan pemerhati pendidikan di Indonesia.
C. Potret Pendidikan di Indonesia
Jika kita amati, problem pendidikan yang ada di indonisia adalah; bentuk pendidikan yang bersifat parsial, pragmatis, dalam banyak hal justru bersifat paradox. Parsial, karena pendidikan yang ada hanya sebatas mengembangkan intelektual dan ketrampilan dan melupakan pendidikan ahlak ,moral dan kesederhanaan jiwa hidup apa adanya. Hal tersebut menjadikan hasil dari pendidikan yang semacam ini menumbuhkan banyak orang-orang yang trampil dan cerdas secara intelektual namun miskin dalam peringai, mental dan tingkah laku, sehingga banyak orang-orang pintar namun rusak moral dan ahlaknya. Pendidikan yang demikian merupakan agen sementara yang hanya untuk melayani kepentingan dan kebutuhan hidup masyarakat industri. Karena masyarakatnya industry oriented maka yang laku adalah fakultas ekonomi, karena masyarakatnya butuh informasi dan tehnologi maka yang laris adalah fakultas tekhnik informatika dan seterusnya.
Bersifat praktis dan pragmatis, hal tersebut tercermin dalam orientasi pendidikan yang ada, yaitu lapangan kerja; dalam banyak hal sekolah sekolah didirikan dengan konsep siap pakai, siap kerja, siap latih dst. Mengukur hasil pendidikan dengan ukuran ukuran yang sederhana, berapa nilai rata-rata yang didapat, berapa lama kuliah dapat diselesaikan, IPK yang memuaskan, ijazah yang cepat didapat, dst. Kesuksesan sebuah lembaga pendidikan dilihat dari seberapa cepat anak didiknya diterima di lapangan kerja, dan seberapa besar gaji yang dapat diperolehnya. Dan hal yang demikian bertolak belakang dengan konsep pendidikan dalam Islam dimana dimensi terpenting dari hidup manusia adalah menjadikan orientasi hidupnyanya bermakna, bagaimana pendidikan dapat memberikan pengaruh dalam jiwa peserta didik untuk mengembangkan sifat-sifat mulia kemanusiaanya, manusia yang semakin bertaqwa, beriman, berbudi luhur, berpengetahuan luas, trampil dan lain sebagainya. Pendidikan yang ada di Indonesia tidak menyentuh aspek substansi yang hakiki dan inti, melainkan hanya pada kisaran kulit dan kepentingan sesaat. Hal tersebut terjadi karena pandangan yang keliru dalam memahami hakekat, peranan dan tujuan hidup manusia di dunia. Sementara itu Anita Lie (CSIS, 2000) menyatakan pendidikan yang bersifat pragmatis akan menghasilkan pola-pola pikir sempit dan akan mencerabut orang dari akar budaya aslinya. Ketegangan dan kekerasan yang terjadi diberbagai daerah dalam menyikapi berbagai persoalan hidup termasuk hasil ujian nasional sekalipun ini menunjukan begitu sempitnya pola pikir mereka sehingga sifat-sifat mulia kemanusiaanya gampang hilang begitu saja.
Bersifat paradox, Pendidikan sesungguhnya adalah proses peniruan, pembiasaan, penghargaan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pendidikan yang ada di Indonesia kita semakin sulit menemukan seorang guru yang ideal, yang menjadi sumber inspirasi bagi anak didiknya. Seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad Samir al-Munir dalam bukunya ketika menulis risalah untuk guru “kami meletakan belahan hati dan jiwa kami di hadapan anda agar mereka mendengarkan apa perkataan anda. Mata mereka terikat kepada anda. Yang baik menurut mereka adalah apa yang anda perbuat dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang anda tinggalkan. Karena itu, dalam memperbaiki mereka, yang pertama kali harus anda perbaiki adalah diri anda sendiri. Anda jaga diri anda agar senantiasa berada di dalam kebaikan…di hadapan anda ada saudara-saudara dan anak-anak kami. Mereka mendapat hidayah dengan ilmu anda. Mereka menuai buah dari benih yang anda tanam, karena itu jadilah teladan yang baik bagi mereka".
Pendidikan sebagai proses peniruan dan pembiasaan harus dimulai dari guru itu sendiri, lalu ditularkan pada anak didiknya, guru harus membiasakan anak didiknya untuk sholat ke masjid setiap kali mendengar adzan, umpamanya. Karena pembiasaan adalah faktor terpenting untuk menciptakan moral dan akhlak. Anak yang terbiasa pergi ke masjid setiap kali mendengar adzan akan merasa tidak enak apabila ada adzan kemudian tidak pergi ke masjid, perasaan yang demikian akan terpatri dalam jiwa anak didik ketika ia telah terbiasa. Dan keterbiasaan itu perlu dilakukan dengan proses pembiasaan, jadi guru tidak hanya berfungsi mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik, tidak hanya mengejar nilai unas, tidak lagi mengejar gaji akan tetapi harus memperdulikan moral dan akhlaq anak didiknya.
Bila ditilik lebih lanjut sesungguhnya yang demikian adalah efek pemisahan antara Ilmu dan amal yang terjadi di negara sekuler. Bahwa bisa saja seseorang sangat intelek dan kaya keilmuan namun prilakunya tidak berkaitan dengan ilmu yang dimilikinya. Ilmu bagi mereka adalah value free (bebas nilai) tidak ada sangkut pautnya dengan prilaku sehari hari. Berbeda dengan konsep Islam, syarat seseorang disebut "alim" apabila ia memiliki sifat wara’, dalam Rijal al-Hadist umpamanya, seseorang baru diterima untuk mentransformasikan hadist (ilmu pengetahuan) jika ia dhobith, bisa dipercaya dan adil, kepintaran saja tidak cukup tapi ia juga harus berperingai baik, jika saja ia pernah berbohong sekali saja dalam hidupnya, maka hadits yang diriwayatkan dianggap tidak syah. Model pendidikan seperti ini seharusnya yang dikenalkan, dikembangkan dan dibiasakan terhadap anak didik kita agar dia tumbuh besar menjadi manusia yang menguasai IPTEK dan IMTAQ.
D. Penutup.
Masalah yang mendasar dari potret pendidikan yang ada di Indonesia adalah bahwa pendidikan menjadi alat mobilisasi social-ekonomi individu dan Negara. Fenomena ini tidak pernah melanda umat Islam sebelumnya dan sangat berbahaya bagi prinsip-prinsip dasar filsafat pendidikan Islam, yaitu mencari ilmu untuk bekal dikemudian hari (akhirat). Muhammad abduh seorang teolog dari Mesir mengkritik hasil-hasil negative dari tujuan pendidikan yang pragmatis, karena hal itu dianggap melakukan pendangkalan agama, ia menyadari bahwa tujuan pendidikan bukan untuk mobilisasi social-ekonomi, melainkan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik. Dalam teori Bloom disebutkan bahwa setiap peserta didik dalam jiwanya harus terpenuhi ketiga unsur sekaligus, yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik. Afektif mengarah pada pembentukan karacter building, kognitif pada ranah intelectual building sedangkan psikomotorik mengarah pada ranah skill building, dan diantara ketiga aspek tersebut yang paling utama adalah aspek afektif yaitu pembentukan karakter, sedangkan tidak bisa dibentuk dengan sempurna kecuali dengan menanamkan pendidikan Islam sejak dini, karena hakekat sebuah ilmu pengetahuan endingnya adalah di moral atau akhlaqul karimah. Allahu A’lam bi as-Showab...
29 Apr 2010
Pentingnya sebuah Bahasa yang Benar
Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal didekat rumahnya.
cadel: "bang, beli nasi goleng satu"
abang: "apa...?" (.....ngeledek.)
cadel: "Nasi Goleng!
abang: "Apaan...?" (......Ngeledek lagi.)
cadel: "Nasi Goleng!!!"
abang: "ohh nasi goleng..."
Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal, sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan "nasi goreng" dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar.
* Hari 2.*
Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa
mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi.
cadel: "bang...,saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!"
abang: "ohh...pake apa?"
cadel: "...pake telol..." (Sambil sedih...)
Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata "telor" sampai benar.
* Hari 3.*
Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut-turut makan nasi goreng
cadel: "bang..., beli NASI GORENG, Pake TELOR!!! Bungkus!"
abang: "ceplok atau dadar ?"
cadel: "dadal..."
Dengan spontan. Kembali dia berlatih dengan keras.
* Hari 4.*
Dengan modal 4 hari berlatih lidah hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa ditertawakan.
cadel: "bang...beli NASI GORENG, Pake TELOR, di DADAR!"
abang: "hebat kamu ' del , udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2500, del ."
si cadel menyerahkan uang Rp.3000 kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya:
cadel: "bang.., kembaliannya?"
abang: "oh iya, uang kamu Rp.3000, harganya Rp.2500, kembalinya berapa del ?", sambil senyum ngeledek.
Si cadel gugup juga untuk menjawabnya, dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi. Tapi akhirnya dia menjawab:"...GOPEK....!!!" Sambil tersenyum penuh kemenangan.
* Moral Cerita *:
INTI DALI CELITA INI ADALAH HIDUPLAH TELUS DENGAN PENUH PELJUANGAN !! JANGAN MENYELAH YACH !!
Dari Milis Sebelah...
23 Jun 2009
Fungsi Bahasa dan Implikasinya
إعداد: سيف المصطفى
Fungsi Bahasa dan Implikasinya
Abstrak
Lemahnya penguasaan bahasa asing seperti bahasa Arab sudah lama diyakini oleh Perguruan Tinggi sebagai salah satu kendala mendasar. Kurangnya penguasaan bahasa asing dapat berimplikasi pada terbatasinya untuk mengakses informasi, kesempatan juga terbatasinya akses jaringan individual dan kemasyarakatan. Sebaliknya, penguasaan bahasa asing memperlebar akses informasi, kesempatan dan jaringan tersebut. Pada gilirannya situasi demikian dapat meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara kelembagaan, khususnya pendidikan tinggi Islam. Sedangkan fungsi bahasa untuk meningkatkan kualitas individu baik pembentukan jiwa maupun akal, pembentukan kualitas masyarakat, menyerap kebudayaan, serta merupakan aspek pendidikan.
الكلمات الإشارية: اللغة, وظيفة, آثار
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا والصلاة والسلام على سيدنا محمد خير الأنام وعلى آله وصحابته الأعلام ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين وبعد.
اعلم أن اللغة أداة لا غناء عنها في التفاهم ووسيلة حتمية لإعلان ما يجري في النفس من رغبات, وما تجيش به الخواطر من حاجات. استخدمتها أجناس الحيوان في حياتها ومعاشها فكانت سر بقائها وسعادتها.
وهكذا وجدت اللغة بصورها المختلفة بين أجناس الحيوان يوم أن أوجد الله سبحانه وتعالى الحياة وخلق الحيوان. فكانت إشارة وكانت رمزا وكانت صوتا أو حركة ثم كانت نطقا ولفظا.
ولقد وهب الله سبحانه اللغة العربية أعظم شرف وأجل منزلة -وأية منزلة-فكانت لغة القرآن الكريم فملأت البقاع وعمت الأرجاء فحق لها البقاء والانتشار, والتقدير والإجلال بين جميع اللغات الأخرى.
عرف ابن خلدون أن اللغة ملكة في اللسان, وكذا الخط صناعة ملكتها في اليد, وهو رسوم وأشكال حرفية تدل على الكلمات المسموعة الدالة على ما في النفس, إذ الكتابة من خواص الإنسان التي يميز بها عن الحيوان (المقدمة , ص 1252).
الوظيفة الأساسية للغة هي التعبير عن أفكار ومشاعر وانفعالات الفرد المتكلم إلى المخاطب. واللغة هي وسيلة التفاهم بين لبشر, وهي أداة لا يستغني عنها الفرد في تعامله وحياته فهي الأداة الخاصة بتصريف شؤون المجتمع الإنساني (عبد المجيد, 31:1982).
يرى إبراهيم داحس أن وظائف اللغة وآثارها تنقسم إلى أربعة أقسام وهي في الفرد, وفي المجتمع, وفي مناهل الثقافة, وفي مجالات التربية (الجلاجل, 15:1994), وهي كالتالي:
أولا : الناحية الفردية
ولقد كانت اللغة أساسا في التكوين الفردي في مجالات النفسية والعقلية, وهي كالآتي:
1. المجالات النفسية
إن اللغة أداة معبرة, تستخدم في إعلان ما تقتضيه النفس من حاجات. وما تحس من آلام وآمال, وما يعتريها من ضيق وملل, وحزن وكآبة, وفرح وسرور. ولعل رغبته الملحة في الإفصاح عن كل ما يخالج نفسه من كل أولئك, دفعه في قدرات متدرجة إلى النطق والكلام, حتى بلغ منزلة من الفصاحة والبيان, فكان النطق الإنساني أبلغ نطق, وكلامه أرقى كلام, ولا غرو فقد فضله الله سبحانه وتعالى على غيره من المخلوقات, ووهبه نعمة النطق والبيان قال تعالى في القرآن الكريم :
الرحمن (1) علم القرآن(2) خلق الإنسان(3) علمه البيان(4)
(سورة الرحمن: آية 1-4)
ومن منا يستطيع أن يكتم مشاعره وأحاسيسه, ويخفى آماله أو آلامه ؟ وإن النفس لترغب في أن يشاركها غيرها, ومن حولها في هذه المشاعر, وأن تجد استجابة من هؤلاء جميعا حتى يسرع إليها الارتياح والاطمئنان.
واللغة في هذه الجوانب النفسية تكون أداة دقيقة وبارعة في وصف هذه المشاعر, وتلك الأحاسيس في صورة فنية جميلة, تحمل أسرار البلاغة ودلائل الإعجاب. وهي بهذا ترقق المشاعر وترهف الأحاسيس وتغذي النفس بأروع الصور, وتثير الخيال فيلون العواطف ويرسم مباهج الخير والجمال.
يرى عبد المجيد أن هذه اللغة هي التي يمكن تركيب الصورة أو الفكرة الذهنية فيها مرة أخرى في الذهن أو ذهن الغير بواسطة تأليف الكلمات ووضعها في ترتيب خاص (عبد المجيد, 32:1982).
ومن هنا وجب علينا أن نستغلها في تعليم أطفالنا فنستجيب لما يظهر من العواطف والوجدان, في أية مناسبة من المناسبات. ولتنطلق الألسنة بإعلان ما يعالج في الأنفس من مشاعر وأحاسيس, فتنمو الثروة اللغوية, وتفصح التراكيب الكلامية وتتسع مجالات الدقة في التعبير والتنظيم في التفكير.
2. المجالات العقلية
يتضح لنا مما تقدم أن اللغة وإن كانت أداة التعبير, والفهم والإفهام, فهي كذلك أداة لصقل النفس وتهذيب الوجدان وإذكاء العواطف وإنماء الخيال, وأن استخدامها في كل أولئك, يدفع بالأطفال إلي الانطلاق والإفصاح والإثراء اللغوي.
وإن اللغة في المجالات العقلية ذات وظيفة مرموقة وآثار بالغة, فهي تزود العقل بكثير من الأدوات التعبيرية من الألفاظ والتراكيب, مما يكسبه قدرات على البحث والتنقيب, ويعنيه علي التفصيل والتحليل, والمقارنات والموازنات, وإصدار الأحكام السديدة والآراء الصائبة.
ومما لاشك أن اللغة تتسع مفرداتها لكل معاني الحياة, تجد الطريق أمامها ممهدا في تكوين الحياة العقلية واكتساب العقل قدرات على حل المعضلات وتفنيد المشكلات وتقديم الحلول مصحوبة بالأدلة والبراهين.
ونرى أن اللغة ذات آثار بناءة: في القدرات العقلية, وعناصر التفكير, فهي تحمل للعقل أنماطا من الأساليب, وتنقله من تفكير إلى تفكير, وتعنيه على الفهم العميق والإدراك الواسع وتوليد المعاني والأفكار والالتزام بالدليل والبرهان والإقناع بالحجة والبيان.
يرى ابن عيسى أن الإنسان يتميز عن سائر المخلوقات بالقدرة على التصور والتجريد والتحليل والتركيب, ولذلك فإن من وظائف اللغة هي:
أ- أنها وسيلة لإبراز الفكر من حيز الكتمان إلى حيز الظهور
ب- أنها عماد التفكير الصامت والتأمل, ولولاها لتعذر على الإنسان أن يستخرج الحقائق عندما يسلط عليها أضواء فكره (ابن عيسى, 78:1971).
ومن هنا ينبغي استخدام اللغة في التكوين العقلي, والاعتماد عليها في التفكير المنطقي, فنأخذ الأطفال بتنسيق الكلام, وتنظيم العبارة حتى تؤدي المعنى المقصود في دقة ومهارة, وأن نتخذ من اللغة مجالا لاكتساب عادات تفكيرية هادفة, فنراعي التسلسل المنطقي والتنظيم العقلي في مجالات التعبير عن كل ما يجري في أذهان الأطفال من تفكير.
ثانيا : الناحية الاجتماعية
إذا كان اللغة آثار واضحة في الفرد, فإنها كذلك ذات آثار واضحة في تكوين المجتمع, ولقد نالت من نفس الفرد جوانبها المختلفة, فزكت وصفت, وارتفعت المشاعر, وسما الوجدان, ونالت من العقل جوانب متعددة, فنما التفكير واستقام وقدر على حل المشكلات واتسعت دائرة المعرف وزادت الخبرات.
رأى سابير (Sapir) أن اللغة هي التي تجعل مجتمعا ما يتصرف ويفكر بالطريقة التي يتصرف ويفكر فيها. وأن ذلك المجتمع لا يستطيع رؤية العالم إلا من خلال لغته, فالبشر واقعون تحت رحمة تلك اللغة المعينة, التي اتخذوها وسيلة للتفاهم في مجتمعهم. حقيقة الأمر أن العالم الحقيقي مبني إلى حد كبير على العادات اللغوية لمجتمع معين (شاهين, 1980:145).
واللغة هي أداة التفاهم والتخاطب, جاءت وليدة الحاجة للتعبير عن المقاصد والرغبات, والإفصاح عن الميول والنزعات. ولم يجد الفرد عنها بديلا, ولا مناص من أن يستخدمها أفراد المجتمع, أداة للتفاهم, ووسيلة لقضاء الحاجات, وتبادل المنافع مما كان له أعظم الأثر في رقي المجتمعات وسعادة الأفراد واتساع دائرة العمران, وحسب اللغة من ذلك توالد الألفاظ والقدرة على إنشاء العبارات والتراكيب, وابتكار الأساليب, وإنماء الخيال, وخلق الصور والتشبيهات.
ولقد كانت اللغة عنصرا أساسيا في التكوين الاجتماعي, في مجالات النفس والعقل والأخلاق والعادات. فنهلت العقول من مناهل اتحدت كئوسها وحملت إليها اللغة معارف وخبرات, جاءت لبنات في بناء عقل إنسان هذا المجتمع, حين تبادلت هذه الخبرات وتلك المعارف مما يرقى بالفكري الإنساني, ويميزه من غيره ويستطيع التغلب على مصاعب الحياة, ويوفر لمجتمعه الذي يعيش بين أفراده الخير والسعادة. وينهض به في مجالات الحياة.
واللغة كذلك عنصر قوي فعال, في إشاعة الحب والتآلف, وربط الأفراد في محيط مجتمعهم برباط الوفاء والإخلاص, والعواطف المتبادلة والرغبة الخالصة قي التعاون المشترك, ووحدة المشاعر والوجدان, وهنا تتقارب الميول والنزعات وتنشأ وحدة في الأفكار والأهداف, والغايات والأخلاق والعادات والقيم والمثل, وينشأ مجتمع معتصم برباط الوحدة في غير تفرق.
ومن الروابط الاجتماعية التي تحققها اللغة, أنها وعاء لحضارات الماضي, تحتفظ بالتراث الحضاري, والأثر التاريخي والمجد الروحي, ولذا فإن المجتمعات تحاول دائما ربط حاضرها بماضيها, حتى تظل قيمها الإنسانية والروحية قائمة على امتداد التاريخ, ترعاها الأجيال الحاضرة واللاحقة.
ثالثا : في مناهل الثقافة
رأى إبراهيم داحس أن اللغة مرآة الحضارات الإنسانية لدى الشعوب وجميع الأمم, وهي كنز عظيم وأمين يدخر التراث الإنساني, وما أنتجته العقول والقرائح من علوم ومعارف وما صدر عن النفس والوجدان من عواطف, وقيم ومثل في مجالات الفنون والآداب (الجلاجل, 20:1994)
تعتبر اللغة ذات وظيفية ثقافية هامة, فهي الوسيلة التي تحمل من جيل إلى آخر الثقافة والعلوم والفن والأدب. وقبل بدء استعمال الكتابة كانت اللغة وسيلة نقل تراث المجتمع العلمي والثقافي من جيل غلى آخر (عبد المجيد, 35:1982)
ولقد كانت هذه المدخرات ركائز تعتمد عليها الأجيال في النهوض بحاضرهم وبناء مستقبلهم, فاستمدوا منها العلم والمعرفة, واغترفوا مما ادخرت كثيرا من خبرات وتجربة, فنمت العقول واتسعت دائرة المعارف وارتقت الحياة العلمية وانتشرت الحضارة وعمت الرفاهية وكثرت المخترعات وازداد العمران.
ووجدت الآداب والفنون حظا موفورا, قد ادخرت اللغة كثيرا منه فيما كان من ذخائر الماضين فاستعانت به واستمدت كثيرا منه, ولقد وجدت فيه ما كان سببا في ازدهارها ورقيها وإذكاء العواطف والوجدان وسمو الخيال.
والأمم إنما تقاس بمدى ما بلغته من حضارات في مجالات العلوم والفنون والآداب وما هي عليه من تقدم في الفكر ورقي في الوجدان ونبل في القيم وسمو في الأخلاق وما تحمله لغتها من حقائق علمية وألوان أدبية ودراسات ثقافية. ومنهجها في البحث والتحليل والموازنة والاستنباط والعمق في التفكير.
وإذا كان هذا هو شأن اللغة في مجالات العلوم والفنون, فإنها تكون الميدان الفسيح الذي يلتقي فيه أطفالنا لينهلوا مما حملت لغتهم من تراث أجدادهم من علوم وفنون وآداب, وسيجدون فيه كثيرا من التجارب والخبرات ويستقون منه المعارف ويكتسبون المهارات فتنضج العقول وترتقي الأفكار وتتهذب النفس ويسمو الوجدان فتنهض الأجيال وتعلو منزلة الأمة وبخاصة حين تعني بالقيم الروحية, وتتخذ من الدراسات اللغوية وآدابها, منهجا تستعين به في إدراك أسرار القرآن الكريم ودلائل إعجازه حتى تجتمع القلوب على مبادئ الدين الحنيف, وعبادة الله وحده فتأتلف القلوب وتتحد الآراء وتعلو راية الإسلام في ظل القرآن وإحياء اللغة وبعث التراث الإسلامي والعناية به.
رابعا : في مجالات التربية
ظلت التربية في الماضي تعني بدراسة اللغة, على أنها هدف خاص مقصود لذاته, ومضى التعليم يحقق هذه الغاية, إحياء اللغة وآدابها وما يتصل بها من علوم أخرى. وكانت النظرة السائدة – قديما- في تعليم اللغة وغيرها, أن يتعلمها الأطفال كما يتعلمها آبائهم من قبل, دون اهتمام بما لها من تأثير في حياة الأطفال وفي نموهم الجسمي والعقلي والوجداني وفي حياتهم المستقبلة.
لذا غلب على تعليم اللغة الاهتمام بالحفظ والتلقين, واجترار ما هو محفوظ في صباح كل يوم, وازدحمت عملية التعليم بالإلقاء والعناية بالمصطلحات القاعدية والحصيلة اللغوية واستظهار الأساليب المختلفة.
ومما لاشك فيه أن هذه الاتجاهات التربوية قد أثقلت كاهل الأطفال وحملتهم كثيرا مما لا يطيقون فأسرع عليهم السأم واعتراهم كثير من الضيق والملل, وكان من أثر ذلك كراهية التعليم وفرار من المدارس.
ولكن الدراسات التربوية الحديثة قد غيرت هذه المفاهيم, وغدا الطفل موضعا المربين, وهدفا مقصودا في مجالات التربية وهذه المواد الدراسية إنما تحقق إعداده إعدادا يتلاءم البيئة والحياة.
واللغة في هذا المجال هي الوسيلة الوحيدة والعنصر الأساسي الذي يمكنه من هذا الإعداد, وهي القديرة على أن تخلق منه مواطنا صالحا, ناضج العقل مهذب النفس يعرق ربه ويخدم وطنه ويعلي شأن دينه, دين الإسلام.
فتعليمه اللغة العربية يجعله قادرا على تفهم القرآن وأحاديث الرسول وإحياء التراث الإسلامي والتزود بزاد من الثقافات الدينية. فضلا عن الإحاطة بذخائر اللغة وآدابها, واستخدمها في مجالات العلوم الكونية والعلاقات الإنسانية والاتصالات الاجتماعية.
هذا وهي وسيلة التأليف والشرح والتدريس, وإنها لتنتظم جميع العلوم والفنون وأداة الفهم والإفهام, فبها يجري النطق كما تكون الكتابة والقراءة قي ميادين الحياة التعليمية والعلمية والأدبية والفنية والاجتماعية والسياسية والاقتصادية. وإنها لتحتوي كل العلوم الكونية والإنسانية وترقى بها.
المراجع:
القرآن الكريم
الجلاجل, إبراهيم داهس,1994. الطرق الخاصة في تدريس اللغة العربية, المملكة العربية السعودية. الوكالة المساعدة للتطوير التربوي.
شاهين, توفيق محمد, 1980. علم اللغة العام, القاهرة: مكتبة وهبة.
عبد المجيد سيد أحمد منصور, 1982. علم اللغة النفسي, المملكة العربية السعودية. جامعة الملك سعود.
ابن خلدون, 1967. مقدمة ابن خلدون. تحقيق على عبد الواحد الوافي, 4 مجلدات, القاهرة. ص 1252.
ابن عيسى, حنفي. 1971. محاضرات في علم النفس اللغوي. الشركة الوطنية للنشر والتوزيع.
اصطلاحات معاصرة: Istilah-istilah Populer
آثار : Implikasi
توعية- توعيات : Indoktrinasi
تصور- تخيل : Imajinasi
وهم- اوهم : Ilusi
مبادءة : Inisiatif
انضباط : Disiplin
انتعاش : Penyegaran
انطباع : Tanggapan
ابتكار, ابتداع : Inovasi
إنجازات : Prestasi
20 Jun 2009
Pendidikan untuk Suami ( 2 )
suami terhadap istrinya, dalam ringkasan tulisan sebelumnya telah disebutkan 10 kesalahan-kesalahan suami terhadap istri, adapun tulisan ini adalah melengkapi tulisan sebelumnya untuk merinci hal apa saja yang seharusnya tidak patut (baca; tidak boleh) dilakukan suami terhadap istrinya. Dengan maksud sebagai bahan introspeksi agar rumah tangga menjadi lebih harmonis.
Kekeliruan-keliruan berikutnya yang biasa dilakukan oleh seorang
suami terhadap istrinya, yaitu:
11. Hobi mencela dan mengkritik istri
12. Kurang berterima kasih kepada istri
Apa ruginya jika Anda memuji istri Anda karena kecantikannya dan
kerajinannya? Apa ruginya jika Anda berterima kasih padanya atas suguhan
yang ia siapkan untuk tamu Anda? Apa pula ruginya jika Anda menyatakan
terima kasih Anda karena telah mengurus rumah dan anak anakmu, walaupun itu
merupakan tugasnya, walaupun ia melakukannya sebagai kewajibannya? Semua itu
dapat memperkuat kasih sayang antara suami istri.
13. Sering bertengkar
14. Lama meninggalkan istri tanpa alas an
Sayyidina Umar bin Khottob pernah menyuruh pulang seorang sahabat yang ikut perang lebih dari 4 bulan agar menemui istrinya di rumah, karena kekuatan istri untuk berpuasa tidak di gauli ukurannya tidak lebih dari 4 bulan.
15. Terlalu sibuk hingga jarang menemani keluarga
16. Bersikap kasar terhadap istri
17. Malas berhias untuk istri
Sebelum bercinta di anjurkan untuk mandi juga berwudlu untuk saling menjaga kebersihan badan masing-masing, disunnahkan memakai wangi-wangian untuk menambah rasa harmonisnya dalam bercinta.
18. Mengabaikan sunnah sebelum bercinta
Islam menganjurkan melakukan hal-hal yang di sunnahkan sebelum bercinta, missal sholat sunnah dua rakaat, berdo`a sebelum berhubungan badan agar terjaga dari godaan syetan dan agar sperma yang keluar pada waktu itu menjadi anak yang sholeh.
19. Mengabaikan kesantunan dan etika bercinta
Islam sangat memperhatikan sekali etika bercinta, missal harus melakukan forplay secukupnya, tidak boleh dilakukan lewat belakang
20. Mengumbar rahasia ranjang
Rahasia ranjang adalah aib, suami-istri harus menjaga dari aib masing-masing tidak boleh bercerita, mengumbar dan curhat rahasia ranjang kepada orang lain.
21. Buta terhadap kondisi kejiwaan istri
Suami dituntut peka terhadap kondisi psikis sang istri. Dengan memahami
kondisi istri, membantu suami bersikap secara tepat.
Ada juga suami yang tidak tahu problem problem alamiah wanita, baik ketika
mengandung, haidh, nifas, dan lainnya. Ketika mengalaminya, kadang ia
merasakan kesulitan dan kegelisahan. Apalagi ketika mengandung dan mengidam.
Pada saat itu, istri menginginkan banyak hal.
Kadang pula ia tidak menyukai sesuatu, sehingga tidak tahan melihatnya atau
menciumnya. Terkadang ia tidak menyukai rumahnya, suaminya, atau hal hal
lain. Jika suami tidak mengerti hal itu, ia bisa saja beranggapan bahwa
istrinya telah membencinya dan bosan dengannya. Kadang pula, suami lantas
bersikap keras, dengan menceraikan istrinya. Ia tidak tahu sikap istrinya
itu di luar keinginannya.
Karena itu, suami sepatutnya memahami masalah masalah ini agar tidak jatuh
dalam kekeliruan kemudian menyesal. Saat itu, penyesalan tak lagi berguna.
Jika ia tidak paham hal hal seperti ini, semestinya ia bertanya. Sebab, obat
kebodohan adalah bertanya.
22. Menggauli istri ketika haid
23. Menggauli istri lewat dubur
24. Memukul istri tanpa alasan
25. Poligami dengan niat buruk
26. Tidak adil pada para istri
27. Terburu buru memutuskan cerai
28. Enggan menceraikan setelah mustahil berdamai
29. Mencela mantan istri
30. Mengabaikan anak usai bercerai
31. Habis manis sepah dibuang
32. Memandang hijau kebun tetangga.
[PERSONAL VIEW]
------------ ---
Buku ini bagus dibaca agar kita bisa mengetahui bagaimana menjadi suami yang
baik. Tetapi upaya memperbaiki rumah tangga bukan hanya dari sisi suami
saja. Harus dibarengi juga dengan upaya memperbaiki diri istri. Dengan
begitu, niatan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahma atas
dasar aturan aturan Islam bisa dilakukan dari dua arah. Yaitu suami dan
istri sekaligus.
Ketika membaca buku ini, saya terdiam dan berpikir. Untuk kesekian
kalinya -alhamdulillah- saya semakin yakin pentingnya ilmu agama dalam
beramal. Bahkan untuk berumahtangga pun kita harus punya ilmunya agar tidak
banyak kekeliruan kekeliruan yang kita buat. Contoh yang menarik adalah
kekeliruan sebagian suami sebagaimana dijelaskan pada point 10, yaitu
mengejutkan istri setelah lama bepergian. Sebagian dari para suami mungkin
mengira akan membuat 'surprise' (kejutan) dengan tiba tiba hadir dihadapan
istrinya. Maksudnya mungkin baik -menurut perkiraan mereka- yaitu agar
semakin bertambah rasa cinta diantara keduanya. Tetapi ini malah suatu
kekeliruan. Tidak semestinya seorang suami menjumpai istrinya secara tiba
tiba setelah bepergian jauh. Hendaknya memberi kabar dulu tentang
kedatangannya, bisa dengan menelpon atau sms. Dengan itu, seorang istri
punya waktu yang cukup untuk bersiap siap menyambut suaminya dengan baik.
Inilah yang bisa menambah rasa cinta diantara suami istri.
Semoga Anda semakin yakin bahwa menuntut ilmu agama itu penting dan memang
perlu...Wallahu A`lam
Pendidikan untuk Suami
Penulis : Muhammad bin Ibrahim Al Hamd
Edisi Indonesia : Agar Suami Disayang Istri
Penerjemah : Ahmad Syaikhu
Penerbit : Pustaka At Tazkia - Jakarta
Cetakan : I, Mei 2005
Halaman : xii + 229
Buku ini menyebutkan kekeliruan kekeliruan yang biasa dilakukan oleh seorang
suami. Dengan maksud sebagai bahan introspeksi agar rumah tangga menjadi
lebih harmonis. Meski perlu diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Tetapi alangkah baiknya bila suami tetap terus memperbaiki diri. Demikian
juga dengan seorang istri. Harus terus memperbaiki diri.
Inilah kekeliruan kekeliruan yang disebutkan dalam buku tersebut. Saya
sebutkan dengan meringkas penjelasannya.
1. Mengabaikan orang tua setelah menikah
2. Membiarkan hubungan antara istri dan mertua menjadi renggang
3. curiga terhadap istri
4. Miskin cemburu terhadap istri
Cemburu yang sehat sangat dianjurkan. Cemburu yang didasarkan pada akal
sehat, cinta kasih dan saling percaya.
Cemburu adalah perasaan mulia dari cinta sejati yang mendorong seorang hamba
melindungi istrinya. Juga sebaliknya, mendorong istri untuk menjaga
suaminya.
Cemburu adalah salah satu sifat pria yang mulia. Perasaan itu tidak boleh
pudar dalam diri seorang pria, apa pun situasinya. Bahkan ketika ia tidak
lagi mencintai istrinya. Kecemburuannya tetap kokoh, selama perempuan
tersebut berstatus istrinya, dan karenanya jadi tanggung jawabnya. Perasaan
cemburu membuat kedua belah pihak merasa dicintai. Masing masing lalu
berusaha memperbarui, menumbuhkan, dan memelihara perasaan cinta.
5. Meremehkan istri
6. Menyerahkan komando rumah tangga pada istri
Suami adalah pemimpin. Mencintai bukan berarti mengikuti semua kemauan
istri. Mencintai berarti bersama sama mengayuh sampan rumah tangga, dengan
penuh cinta dan saling mengerti.
7. Merampas harta istri
8. Malas mengajari istri tentang Islam
Ini salah satu kekeliruan yang dilakukan oleh banyak suami. Suami malas
mengajar, mendidik dan memahamkan istrinya dalam urusan agamanya.
Jika istri bodoh dalam urusan agamanya, ia tidak mengetahui hak suaminya,
tidak mampu mendidik anak anaknya dan merawat rumahnya dengan baik. Ia pun
tidak beribadah pada Rabb nya dengan cara yang Dia ridhai.
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan, "Kewajiban atas suami, sebagai
pemimpin rumah tangga adalah mendidik istri istrinya semaksimal mungkin agar
mereka melaksanakan kewajibannya. "
Rasyid Ridha melanjutkan, "Bagaimana mungkin wanita dapat menunaikan
kewajiban dan hak jika mereka tidak mengetahuinya, baik secara umum maupun
rinci? ... "
Suami hendaknya berupaya mengokohkan dalam hati istrinya rasa cinta pada
Allah, takut dan harapan kepada Nya, merasakan pengawasan Nya, bertawakal
dan senantiasa bertaubat pada Nya. Ia ajarkan hukum hukum bersuci dengan
berbagai ragamnya, jinabat, hadats, haid, nifas dan lainnya.
Selanjutnya yang juga patut diperhatikan, seorang istri sangat terpengaruh
dengan perilaku suaminya. Jika ia melihat suaminya sangat menyukai auratnya
tertutup, iffah (menjaga kesucian diri), berakhlak dan rajin beribadah, sang
istri pun bersegera melakukannya. Ia terdorong oleh semangat memenuhi
perintah Rabb nya dan mencari ridha suaminya. Sebaliknya jika ia melihat
suaminya meninggalkan hukum hukum agama dan adab berkeluarga, ia pun
mengikuti suaminya demi menyenangkan hatinya.
9. Pelit terhadap istri
Salah satu hak istri atas suaminya adalah diberi nafkah secara ma'ruf.
Maksud nafkah disini adalah harta yang diwajibkan atas suami untuk diberikan
pada istrinya, seperti tempat tinggal, makanan, pengasuhan, pakaian, dan
lain lainnya. Dengan begitu, kehormatan istri selamat dari pelecehan,
kesehatan pun terjaga. Semua itu hendaknya dilakukan dalam batas batas
kesanggupan.
Ibnu Qudamah berkata, "Memberikan nafkah pada istri adalah kewajiban,
berdasarkan Al Qur'an, As Sunnah, dan ijma'. Allah berfirman:
"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang
yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan
Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan
(sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya." (Ath Thalaq: 7).
As Sarakhsi berkata, "Suami wajib memberikan nafkah menurut kadar kecukupan
dan dinilai ma'ruf, yakni tidak kikir dan tidak berlebih lebihan."
Memberikan nafkah kepada istri lebih didahulukan daripada memberi nafkah
pada orang lain. Ini dilalaikan oleh banyak orang. Abu Hurairah menuturkan
sabda Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam:
"Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau
nafkahkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau nafkahkan kepada
orang miskin, dan satu dinar yang kamu nafkahkan pada keluargamu; maka yang
paling besar pahalanya adalah apa yang engkau nafkahkan pada keluargamu."
(HR. Muslim no. 995).
Istri tidak boleh menuntut nafkah melebihi kebutuhannya, atau membebani
suaminya di luar kesanggupannya. Itu berarti menyusahkan dan membebani.
Ketika istri diuji oleh suami yang kikir terhadapnya, lalu ia bersabar dan
mengharapkan pahala, maka ia akan mendapat pahala dari Allah.
10. Mengejutkan istri setelah lama bepergian
Berikan kesempatan kepada istri untuk bersolek setelah Anda bepergian lama.
Niscaya hasrat dan kasih sayang lebih bertahan lama.
Dalilnya adalah hadits riwayat Jabir. "Kami bersama Rasulullah
shallallahu' alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Ketika kami telah tiba
di Madinah, kami pergi untuk menemui istri kami. Rasulullah bersabda,
"Perlahan, jangan masuk pada malam hari -yakni Isya'- hingga ia menyisir
rambut yang kusut, dan agar wanita yang ditinggal bepergian itu bisa
berdandan." (HR. Muslim, No. 715; Abu Daud No. 2776; dan At Tirmidzi no.
1172).
Hikmah dilarangnya perbuatan ini, adalah agar hasrat terhadap istri tetap
kuat. Sebab, suami tidak melihat suatu aib pada istrinya atau sesuatu yang
mengurangi keindahannya. Misalnya, rambut acak acakan, tidak berhias, dan
lainnya. Dengan memberi tahu terlebih dulu, suami dapat melihat istrinya
tetap cantik karena telah berhias. Hatinya pun tetap gembira. Hasratnya pun
tetap terjaga.
Ringkasnya, suami tidak semestinya datang menjumpai istrinya secara tiba
tiba setelah bepergian jauh. Hal ini dalam rangka mengikuti sunnah, ...
Saat ini, berbagai sarana tersedia. Seorang suami bisa berkomunikasi lewat
telepon dan memberitahu istrinya bahwa ia akan datang pada hari dan waktu
tertentu. Setelah mengetahui waktu kedatangan suaminya, istri pun
berkewajiban untuk berdandan dan bersiap siap dengan sempurna untuk
menyambutnya.
15 Jun 2009
Potret Pendidikan Kita
Bersifat praktis dan pragmatis, hal tersebut tercermin dalam orientasi pendidikan yang ada, yaitu lapangan kerja; dalam banyak hal sekolah sekolah didirikan dengan konsep siap pakai, siap kerja, siap latih dst... Mengukur hasil pendidikan dengan ukuran ukuran yang sederhana, berapa lama kuliah dapat diselesaikan, IPK yang dapat dicapai. Kesuksesan sebuah lembaga pendidikan dilihat dari seberapa cepat anak didiknya diterima di lapangan kerja, dan seberapa besar gaji yang dapat diperolehnya. Dan hal yang demikian bertolak belakang dengan konsep pendidikan dalam Islam. dimana dimensi terpenting dari hidup manusia yang menjadi orientasinya, bagaimana pendidikan dapat memberikan pengaruh dalam jiwa peserta didik untuk mengembangkan manusia menjadi semakin bertaqwa, beriman, berbudi luhur, berpengetahuan luas, trampil dan lain sebagainya. Pendidikan yang ada di Indonesia tidak menyentuh aspek substansi atau yang hakiki dan inti tersebut, melainkan hanya pada kisaran kulit dan kepentingan sesaat. Hal tersebut terjadi karena pandangan yang keliru dalam memahami hakekat, peranan dan tujuan hidup manusia di dunia.
Bersifat paradox, Pendidikan sesungguhnya adalah proses peniruan, pembiasaan, penghargaan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dalam pendidikan yang ada di Indonesia sulit sekali menemukan seorang guru yang ideal, yang menjadi sumber inspirasi bagi anak didiknya. Seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad Samir al-Munir dalam bukunya ketika menulis risalah untuk guru “kami meletakan belahan hati dan jiwa kami di hadapan anda agar mereka mendengarkan apa kata anda. Mata mereka terikat kepada anda. Yang baik menurut mereka adalah apa yang anda perbuat dan yang buruk menurut mereka adalah apa yang anda tinggalkan. Karena itu, dalam memperbaiki mereka, yang pertama kali harus anda perbaiki adalah diri anda sendiri. Anda jaga diri anda agar senantiasa berada di dalam kebaikan…di hadapan anda ada saudara-saudara dan anak-anak kami. Mereka mendapat hidayah dengan ilmu anda. Mereka menuai buah dari benih yang anda tanam, karena itu jadilah teladan yang baik bagi mereka".
Pendidikan sebagai proses peniruan tidak lagi dapat ditemui karena yang terjadi dilapangan adalah kebalikannya, guru tidak lagi menjadi uswah karena mereka hanya berfungsi mentransfer pengetahuan kepada peserta didik dan melupakan fungsinya sebagai pendidik. Banyak kasus amoral terjadi di Indonesia ini yang dilakukan oleh oknum guru. System pegawai negri umpamanya, menjadikan guru hanya mengejar gaji dan tidak memperdulikan lagi moral anak didiknya. Bila ditilik lebih lanjut sesungguhnya yang demikian adalah efek pemisahan antara Ilmu dan amal yang terjadi di negara sekuler. Bahwa bisa saja seseorang sangat intelek dan kaya keilmuan namun prilakunya tidak berkaitan dengan ilmu yang dimilikinya. Ilmu bagi mereka adalah veleu free (bebas nilai) tidak ada sangkut pautnya dengan prilaku sehari hari. Berbeda dengan konsep Islam, syarat seseorang disebut "Alim" apabila ia memiliki sifat wara’, dalam rijal hadist umpanya, seseorang baru diterima untuk mentransformasikan hadist (pengetahuan) jika ia dhobith, bias dipercaya dan adil, kepintaran saja tidak cukup ia juga harus berperingai baik, jika saja ia pernah berbohong sekali saja dalam hidupnya, maka hadits yang diriwayatkan di syah.
Maka jika kemudian pendidikan sebagai proses pembiasaan tidak lagi bisa kita temui dalam model sekolahan yang ada di Indonesia, hal tersebut sangat bisa dimaklumi. Bagaimana mungkin seorang guru yang dalam konsep mengajarnya hanya mengejar pelaksanaan tugas yang penting dapat gaji bisa berpikir membiasakan peserta didiknya untuk sholat ke mesjid setiap kali mendengar adzan, padahal pembiasaan adalah faktor terpenting untuk menciptakan moral atau akhlak. Anak yang terbiasa pergi ke mesjid setiap kali mendengar adzan akan merasa tidak enak apabila ada adzan kemudian tidak pergi ke mesjid, perasaan yang demikian akan terpatri dalam jiwa anak didik ketika ia telah terbiasa. Dan keterbiasaan itu perlu dilakukan dengan proses pembiasaan.
Problem yang paling mendasar dari Pendidikan yang ada di Indonesia adalah bahwa pendidikan menjadi alat mobilisasi social-ekonomi individu dan Negara. Fenomena ini tidak pernah melanda umat Islam sebelumnya dan sangat berbahaya bagi prinsip-prinsip dasar filsafat pendidikan Islam, yaitu mencari kerihaan Allah. Muhammad abduh (teolog) dari Mesir mengkritik hasil-hasil negative dari tujuan pendidikan yang pragmatis, ia menyadari bahwa tujuan pendidikan itu bukan untuk mobilisasi social-ekonomi, melainkan untuk mengembangkan kepribadian peserta didik, lebih lanjut ia menyatakan:
“Pendidikan ini disampaikan (imparted) sehingga murid bisa memperoleh gelar yang memungkinkannya memperoleh pekerjaan sebagai tenaga administrasi dalam sebuah departemen. Namun, hakekat bahwa jiwanya harus dibentuk dengan pendidikan (al-ta’lim wa al-tarbiyah) dan dengan menanamkan nilai-nilai yang luhur sehingga ia menjadi manusia yang saleh (rojulan shaalihan fi nafsihi), yang dengannya ia bisa mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dalam instansi pemerintahan ataupun dalam instansi lainnya, tidak masuk ke kepala para guru dan orang-orang yang mengangkat guru-guru tersebut”
14 Jun 2009
Visi Pendidikan ke Depan
Ciri ciri manusia produktif adalah; ia menerima dirinya sendiri secara ikhlas, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Tidak larut dalam kebanggaan atas kelebihan yang dimiliki dan tidak mandeg karena kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Dengan sikap yang demikian maka ia akan mampu memikirkan apa yang dapat dilakukannya dengan segenap sifat yang ada pada dirinya. Yang kedua adalah; ia menerima lingkungan hidupnya secara ikhlas. Ikhlas dalam hal ini bermakna ia tidak menyesal karena berada di desa, di lingkungan yang kurang makmur, atau disebuah Negara yang kurang maju. Menerima seluruh kekurangan yang terdapat dalam lingkungannya. Dengan begitu ia akan mampu menangkap kemungkinan-kemungkinan yang terbentang di depannya. Ketiga adalah; manusia produktif adalah manusia yang peka terhadap kebutuhan-kebutuhan zamanya. Tanpa kepekaan itu mustahil ia mampu untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan oleh lingkungannya. Keempat adalah; manusia yang memiliki kemampuan bekerja dan berkarya karena mengenal dan menguasai metode-metode kerja yang terdapat dalam bidang garapannya.
Manusia yang kreatif dan produktif sebagai target pendidikan adalah visi umum dari pendidikan, karenanya masih harus diperinci lebih lanjut bagaimana membentuk karakter yang demikian itu ke dalam jiwa anak didik. Misalnya bahwa pendidikan jangan hanya semata mata menekankan pada pengisian otak, tapi juga pengisian jiwa. Upaya yang demikian adalah dalam rangka mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang terkotak-kotak ke dalam ikatan tauhid. Yaitu keyakinan bahwa ilmu-ilmu yang dihasilkan lewat penalaran itu adalah bukti kasih sayang Allah karenanya harus diabadikan untuk beribadah kepada Tuhan melalui karya-karya kemanusiaan yang ikhlas.
13 Jun 2009
Orientasi Pendidikan Kita?
Sistem pendidikan yang diterapkan di berbagai Negara yang ada di dunia ini berorientasi kemasyarakatan-kenegaraan. Pandangan ini dianut oleh aliran Perenial atau aliran Transmisi Kebudayaan yang sering dihubung-hubungkan dengan Plato, sarjana barat abad pertengahan, dan beberapa sarjana modern, seperti William T. Harris, Robert Hutchins, dan Adler di Amerika, juga aliran Rekonstruksi Sosial Modern yang diwakili oleh George S. Count, Paulo Freire di Brasil, dan Jurgen Habermas di Jerman. Sebaliknya, hampir semua agama besar menganut pandangan yang berorientasi kepada Individu
Mereka yang meyakini pendidikan sebagai sesuatu yang memainkan peranan penting dalam membentuk masyarakat beranggapan bahwa masyarakat jauh lebih penting dari individu. Meskipun tidak sepenuhnya diabaikan dalam praktik pendidikan yang berorientasikan kemasyarakatan, kebutuhan dan minat peserta didik menduduki posisi kedua setalah kebutuhan dan minat masyarakat, sejauh kebutuhan dan minat peserta didik memiliki kaitan dengan kebutuhan dan minat masyarakat.
Sementara itu, pandangan teoritis pendidikan yang berorientasi individual terdiri dari dua aliran. Aliran pertama berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa meraih kebahagiaan yang optimal melalui pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan kemapaman ekonomi, jauh lebih berhasil dari yang pernah dicapai oleh orang tua mereka. Dengan kata lain, pendidikan adalah jenjang mobilitas sosial-ekonomi suatu masyarakat tertentu. Aliran kedua lebih menekankan peningkatan intelektual, kekayaan ilmu pengetahuan, dan keseimbangan jiwa peserta didik. Menurut mereka, meskipun memiliki banyak persamaan dengan peserta didik yang lain, seorang peserta didik memiliki karakter, sifat dan keunikan masing-masing dalam berbagai segi.
Pendidikan Islam tradisional selalu menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting. Namun, filsafat pendidikan yang lebih memfokuskan individu ini secara perlahan-lahan berubah ke bentuk yang lebih memfokuskan pemenuhan kebutuhan dan minat masyarakat sejak umat Islam berada di bawah pengaruh pemikiran dan institusi institusi Barat. Sekarang ini, pendidikan menjadi alat mobilisasi sosial ekonomi individu atau Negara. Dominasi sikap seperti ini dalam dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko-sosial, terutama dikalangan peserta didik dan orang tua, yang terkenal dengan “penyakit diploma” (diploma disease), yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, melainkan karena nilai-nilai ekonomi dan social.
Pergeseran nilai dan tujuan pendidikan ini harus diluruskan kembali sesuai dengan tujuan pendidikan semula yaitu menjadikan keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang berdasarkan kekuatan moral (akhlaqul karimah), kekuatan mental (keyakinan / keimanan) dan kekuatan spiritual (ketaqwaan). Sebenarnya ending-nya (baca: tujuan akhir) sebuah pendidikan terletak pada tiga kekuatan tersebut, karena Rosulullah di utus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan moral / akhlaq manusia, bukan untuk memberikan ilmu atau memintarkan manusia.
Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah orientasinya untuk penguatan tiga komponen tersebut, yaitu;
1. kekuatan moral (akhlaqul karimah)
2. kekuatan mental (keyakinan / keimanan)
3. kekuatan spiritual (ketaqwaan)
ketiga faktor inilah yang akan mengantarkan peserta didik ke depan pintu gerbang keberhasilan di dunia dan di akhirat …Wallahu A`lam bis Showab
12 Jun 2009
Aborsi Pendidikan
“Sekolah bla-bla menerima pendaftaran siswa-siswi baru, di jamin lulus 100% .. di jamin langsung di terima kerja di berbagai instansi pemerintahan” begitulah iklan sekolahan yang sering kita baca. Dari situ saja sudah bisa ditebak; bahwa orientasi sekolahan tersebut adalah menciptakan tenaga kerja. Anak dipacu demikian rupa untuk bisa melalui tahapan Ujian dengan berbagai upaya, mulai dari belajar bersama hingga do’a bersama, istighosah dan lain sebagainya, semua itu dilakukan dengan sebab satu hal, takut jika gagal dalam ujian, kegagalan dari ujian berarti kegagalan mendapatkan ijazah, dan kegagalan mendapatkan ijazah adalah kegagalan untuk berkompetisi dalam memperoleh pekerjaan sebagai pegawai. Maka jika kita telusuri sesungguhnya sekolah tidak beda dengan pabrik; bahan baku yang dikelolanya; manusia, hasil produksinya; Tenaga kerja.
Manusia disebut manusia bukan karena ia memiliki otak saja, melainkan ada demensi yang lainnya dimana dengannya manusia bisa dibedakan dengan mahluk yang lain. Di samping otak, ada hati dan jiwa. Pendidikan yang hanya terfokus pada penglolaan kemampuan otak saja akan gagal membangun seseorang menjadi manusia. Akibatnya banyak anak pintar lahir dari model pendidikan kita, tetapi akhlak dan charakternya tidak tumbuh, dan cendrung rusak. Maka sekolah yang baik adalah sekolahan yang berorientasi kepada aktualisasi anak didiknya. Mengelola seluruh demensi yang dimilik oleh seorang anak, ya otaknya, ya hatinya, ya jiwanya. Ketiga demensi itu harus dikelola secara seimbang agar tidak terjadi ketimpangan ketika anak harus bersosialisasi. Kemampuan anak dalam aktualisasi diri di tengah masyarakatnya terkait erat dengan kematangan secara akal, hati dan jiwa sekaligus. Pendidikan yang hanya berorientasi pada pembentukan daya kognitif otak saja dan memalingkan dari affectif, psikomotorik, pengembangan spiritual, dan pengembangan emosional anak, adalah aborsi dalam pendidikan; memaksa anak untuk lahir sebelum waktunya.
“Early Ripe, Early Rot…” cepat masak, cepat busuk… mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa dalam membentuk anak untuk segera jadi, dan siap berkompetensi dalam hidup. Ada tren di masyarakat kita untuk sesegera mungkin melihat anaknya berprestasi. Sejak usia dini sudah dikenalkan dengan program-program pendidikan, dimana program-program itu telah menjajah jiwa anak yang bebas menjadi terikat, hingga waktu yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan jiwanya dengan bermain; terkorupsi oleh keinginan orang tua untuk melihat anaknya menjadi anaknya yang unggul. Sebut saja misalnya; tuntutan wali murid agar anaknya segera mampu membaca, telah menggiring guru-guru TK memaksa anak-anak untuk mampu membaca. “Pendidikan kita cendrung memperkosa dibanding membebaskan”.
Mengembalikan jiwa pendidikan pada hakekatnya adalah untuk menjadikan manusia yang hatinya mencahaya dan pikirannya terang benderang “good and smart”. Dan hal itu mungkin dilakukan jika setiap guru yang ada memiliki pemahaman yang benar dengan konsep pendidikan. Karena ketidak mampuan guru/pendidik dalam menghadapi persoalan pendidikan, atau salah dalam memahami orientasi pendidikan, akan membawa anak didik dan orang tua murid salah juga dalam mengorientasikan hidupnya... Allahu A`lam.
11 Jun 2009
Pendidikan, Salah Satu Solusinya
Penyebabnya sangat komplek; kesenjangan social yang terlalu tajam, pemberantasan korupsi yang sangat lambat, sumber daya masyarakat masih rendah, pendidikan di perguruan tinggi mahal sehingga orang miskin tidak mampu menyekolahkan anaknya, lapangan kerja semakin sempit, krisis global yang mengakibatkan banyak perusahaan bangkrut dan PHK besar-besaran, perekonomian negara yang belum stabil merangkaknya sangat pelan-pelan, dst…
Langkah awal pemecahannya harus dilakukan lewat pendidikan yang benar, baik dan jujur, karena itu yang kita benahi dahulu adalah sumber daya manusianya bukan ekonominya, ibarat memancing kita tidak memberi ikan, tetapi memberi kail juga ditunjukan cara-cara bagaimana menggunakan kail tersebut dengan benar untuk mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya. Dengan pendidikan yang benar, baik dan jujur akan melahirkan manusia-manusia berakhlaqul karimah, bermental baik tidak bermental picik, jujur dan selalu berikiran positif untuk maju kedepan.
Permasalahan serumit apapun jika SDM nya bagus mereka akan mampu mengatasinya sendiri, tidak menggantungkan orang lain, mampu menciptakan lapangan kerja, bahkan dengan SDM yang bagus insyaallah kita akan mampu mengatasi permasalahan yang komplek diatas tadi secara simultan dan berkelanjutan.
Dalam hal pendidikan, pemerintah sekarang sudah melaksanakan kebijakannya sesuai dengan amanat undang-undang yaitu menaikkan anggaran pendidikan 20 % dari anggaran APBN, tentu didalamnya kesejahteraan pendidik juga ikut terpenuhi,insyaallah harapan cerah itu sudah mulai nampak tentunya dengan di imbangi biaya pendidikan murah khususnya untuk kalangan warga miskin ---bukan anggaran sudah 20 % tapi pendidikan tetap mahal, karena saya menyaksikan sendiri antusias masyarakat mayoritas petani yang ingin menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi tapi begitu melihat anggaran yang besar dan harus dibayar lewat bank ---tentunya tidak bisa di angsur--- mereka tidak berani dan mengurungkan niat untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Fenomena ini ribuan bahkan jutaan calon mahasiswa yang gagal menjadi mahasiswa gara-gara bayarnya mahal dan tidak bisa diangsur, andaikata bisa diangsur saya yakin para petani masih sanggup menyekolahkan anaknya, sayangnya itu sebuah aturan yang katanya dalam tanda kutip sudah baku, karena gagal kuliah akhirnya mereka jadi buruh tani, yang nekat urban ke kota jadi buruh pabrik, yang lebih nekat lagi berangkat ke luar negeri jadi TKI/TKW kalau sudah seperti itu masa depannya habis sudah tidak mampu lagi bersaing dalam dunia apapun dan di manapun, selamanya dia akan menjadi orang yang bermental obyek (buruh) bukan mental subyek. Kita sebagai pelaku pendidikan harus mencarikan jalan keluar untuk mempermudah bagi saudara-saudara kita yang miskin itu agar bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, insyaallah upaya kita seperti ini merupakan wujud kepedulian kita ikut serta mengentaskan kemiskinan lewat pendidikan yang layak dan memperkecil jumlah anak yang terlantar.
Melalui kebijakan-kebijakan pendidikan yang berpihak pada masyarakat miskin, kita ikut mencerdaskan masyarakat, ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan akhirnya kita ikut menghantarkan generasi muda kedepan yang lebih baik dari sekarang, tentu hal ini merupakan bentuk kepedulian dan amal sholeh kita yang akan memperkecil jurang kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat sekaligus akan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungannya masing-masing.
Insyaallah, dengan mohon ridlo Allah SWT sepulang dari kuliah di King Saud University Riyadh ini saya bersama orang-orang yang peduli dengan pendidikan akan membentuk sebuah pendidikan yang benar, baik dan jujur untuk menjawab berbagai tantangan yang terjadi kedepan. Pendidikan yang berbasis tekhnologi informasi yang dilandasi pondasi-pondasi keagamaan yang kuat dan mantap, dengan model boarding school, penguatan aqidah keislaman, penguatan bahasa arab dan inggris, memperbagus bacaan al-qur`an, setelah bacaan alqur`an bagus siswa harus menghafal al-quran setiap selesai sholat subuh minimal harus hafal 1 juz pertahun.Rencana bentuk pendidikannya, 1 tahun untuk penguatan bahasa arab, bahasa inggris dan tahsin al-qur`an, 3 tahun pendidikan formal tingkat menengah atas (SLTA), jadi pendidikan yang ditempuh nanti membutuhkan waktu selama 4 tahun, dalam kurun empat tahun tersebut siswa harus menguasai standart-standart yang telah ditentukan lembaga termasuk hafal al-qur`an minimal 4 juz tersebut. Juga rencana kedepan siswa berprestasi yang bahasa arabnya lancar insyaallah akan kita kirim melanjutkan study ke Timur Tengah termasuk ke kampus King Saud University Riyadh yang sekarang penulis jalani, jika bahasa inggrisnya bagus insyaallah ---tentu dengan seizin Allah SWT--- akan kita kirim ke Autralia, Malaysia dan Negara lainnya, dalam hal ini saya sudah menjalin hubungan dengan rekan-rekan yang sedang/pernah study di berbagai Negara untuk mencari informasi tentang peluang-peluang beasiswa tersebut, sebagian dari mereka juga ada yang saya libatkan secara langsung dalam Tim Penggagas Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) ini. Bagi para pembaca budiman yang sempat membaca artikel ini saya mohon do`a restu, atau bagi yang memberikan saran, kritik, ide, pikiran, usulan dan informasinya kami menerima dengan tangan terbuka, tentu sebelumnya saya ucapkan Jazaakumullah Ahsanal Jaza`… semoga Allah SWT meridloi langkah-langkah kami ini…Amiiin
10 Jun 2009
Peran Pendidik di Era Tekhnologi
إعداد: سيف المصطفي
برنامج الدبلوم العالي بجامعة الملك سعود بالرياض
المملكة العربية السعودية
Abstraksi:
Peran seorang pendidik dalam era tekhnologi semakin komplek, ia tidak hanya sebagai seseorang yang mentransfer ilmu, penjelas mata pelajaran, penjelas modul atau diktat mata kuliah saja, akan tetapi dalam pembelajaran berbasis tekhnologi informasi ini pendidik dituntut berperan sebagai motivator, inovator, formulator, teman belajar siswa, menggali dan mengembangkan potensi peserta didik secara maksimal (discovery).
Disinyalir bahwa dalam pembelajaran berbasis tekhnologi informasi ini pendidik banyak yang belum siap memainkan perannya sebagai pendidik terutama dalam penggunakan media pembelajaran tekhnologi informasi, tidak kreatif dan gagap tekhnologi (gaptek). Ia masih menggunakan pendekatan model lama yang tentu hal ini sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman.
Dalam hal pendidikan, pemerintah sekarang sudah melaksanakan kebijakannya sesuai dengan amanat undang-undang yaitu menaikkan anggaran pendidikan 20 % dari anggaran APBN, tentu didalamnya kesejahteraan pendidik ikut terpenuhi. Hal ini seharusnya di imbangi juga oleh pendidik dengan pelayanan prima terhadap peserta didik, salah satu bentuk layanan prima adalah dengan peningkatan kualitas pendidik itu sendiri agar ia berperan secara maksimal dalam proses pembelajaran, karena meskipun pembelajaran berbasis tekhnologi informasi pendidik adalah tetap yang utama, sedangkan tekhnologi sebagai media saja.
Abstract
Roles of a teacher are more complex in the era of technology. He is not just a person who transfers knowledge, explains tutorials, modules, and lectures. However, in studying based on information technology (IT), a teacher is urged to play a role as motivator, innovator, formulator, and a friend for students to explore and develop potential of the students a in maximum way.
It is said that in studying based on information technology, many teachers are not ready to play their roles as moderate teachers where they are not capable of using media based on technology, not creative, and have lack knowledge of technology. They still use old model approach which is not appropriate to needs and hopes of education these days.
In education aspect, governments have, today, made policies to increase educated budget to 20% of national budget (APBN). Surely, teachers will have more income to improve their lives. Therefore, teachers should provide significant services for students. One of service forms is to improve the quality of teacher’s knowledge itself in order to play a maximum role in studying process. Although studying process is based on information technology, teachers are major in playing role in educated system
نعيش الآن عصر التكنولوجيا التعليمية، والتي انعكس تأثيرها على التعليم الذي هو طريق التقدم والرقي لأي مجتمع، وإذا كان المعلم يمثل أحد أركان العملية التعليمية، فإن إعداد المعلم لا بد وأن يواكب التطور الحادث في التعليم، وهذا يدعو المؤسسات التربوية المهتمة بإعداد المعلم إلى إعادة النظر في برامج إعداد المعلم، والمداخل التربوية التي يقوم عليها إعداده وإضافة الجديد إليها والعمل على تحسين وتطوير القائم منها.
يسلط هذا البحث على دور المعلم في التعلم الإكتروني حيث أن للمعلم مكانة خاصة في العملية التعليمية، بل إن نجاح العملية لا يتم إلا بمساعدة المعلم فالمعلم ما يتصف به من كفاءات وما يتمتع به من رغبة وميل للتعليم هو الذي يساعد الطالب على التعلم ويهيئه لاكتساب الخبرات التربوية المناسبة. صحيح أن الطالب هو محور العملية التعليمية وأن كل شيء يجب أن يكيف وفق ميوله واستعداداته وقدراته ومستواه الأكاديمي والتربوي، إلا أن المعلم لايزال العنصر الذي يجعل من عملية التعليم والتعلم ناجحة وما يزال الشخص الذي يساعد الطالب على التعلم والنجاح في دراسته ومع هذا فإن دور المعلم اختلف بشكل جوهري بين الماضي والحاضر فبعد ان كان المعلم هو كل شيء فى العملية التعليمية هو الذي يحضر الدروس وهو الذي يشرح المعلومات وهو الذي يستخدم الوسائل التعليمية وهو الذي يضع الاختبارات لتقييم التلاميذ فقد أصبح دوره يتعلق بالتخطيط والتنظيم والإشراف على العملية التعليمية أكثر من كونه شارحا لمعلومات الكتابي المدرسي لابد لنا قبل الحديث عن دور المعلم في عصر الانترنيت والتعلم الاكتروني أن تستعرض دور المعلم بين القديم والحديث. حيث تغير دور المعلم تغيرا ملحوظا من العصر الذي كان يعتمد على الورقة والقلم كوسيلة للتعلم والتعليم إلى العصر الذي يعتمد على الحاسوب والانترنيت وهذا التغير جاء انعكاسا لتطور الدراسات فى مجال التربية بخاصة وما تمخضت عنه من نتائج وتوصيان، حيث كانت قديما تعتبر المعلم العنصر الأساسي فى العملية التعليمية والمحور الرئيسي لها، ولكنها الآن تعتبر الطالب المحور الأساسي، وتبعا لذلك فقد تحول الاهتمام من المعلم الذي كان يستأثر بالعملية التعليمية إلى الطالب الذي تتمحور حوله العملية التعليمية وذلك عن طريق إشراكه في تحضير وشرح بعض أجزاء المادة الدراسية، واستخدام الوسائل التعليمية والقيام بالتجارب المختبرية والميدانية بنفسه والقيام بالدراسات المستقلة وقيم أدائه أيضا، كل هذه المحاور سيناقشها البحث ولكنه يركز على دور المعلم في التعلم الإكتروني.
ب- التعريف عن التعلم الإكتروني
هناك عدة التعريفات عن التعليم الإلكتروني، منها:
يشير طارق عبد الرؤوف عامر (2007: 19) إلى أن التعليم الإلكتروني يعني: تقديم محتوى تعليمي (إلكتروني) عبر الوسائط المعتمدة على الكمبيوتر وشبكاته إلى المتعلم بشكل يتيح له إمكانية التفاعل النشط مع هذا المحتوى ومع المعلم ومع أقرانه سواء أكان ذلك بصورة متزامنة synchronous أم غير متزامنة asynchronous وكذا إمكانية إتمام هذا التعلم في الوقت والمكان وبالسرعة التي تناسب ظروفه وقدراته، فضلا إمكانية إدارة هذا التعلم أيضا من خلال تلك الوسائط.
عرّف زكريا يحيى (391:2005) التعليم الإلكتروني e-Learning على أنه التعلم الذي يعتمد على استخدام الوسائط الإلكترونية في الاتصال بين المعلمين والمتعلمين وبين المتعلمين والمؤسسة التعليمية برمتها، وهناك مصطلحات كثيرة تستخدم بالتبادل مع هذ1 المصطلح منها: Online Education, Web Based Education, Electronic Education وغيرها من المصطلح.
قال عبد الله بن عبد العزيز الموسى عميد كلية الحاسب والمعلومات بجامعة الإمام بالرياض http://www.al-soman.com أن التعليم الإلكتروني هو طريقة للتعليم باستخدام آليات الاتصال الحديثة من حاسب وشبكاته ووسائطه المتعددة من صوت وصورة و رسومات وآليات بحث ومكتبات إلكترونية وكذلك بوابات الإنترنت سواء كان عن بعد أو في الفصل الدراسي، المهم المقصود هو استخدام التقنية بجميع أنواعها في إيصال المعلومات للمتعلم بأقصر وقت وأقل جهد وأكبر فائدة)
أما قال أ/د. خليل حسن الزركاني www.ksu.edu.sa/sites/KSUArabic/Student أن التعليم الإلكتروني هو صف دراسي يقوم بتأمين المادة الدراسية كما يقوم الهاتف الخلوي بتأمين المكالمة الهاتفية في محطة للحافلات، على سبيل المثال يتيح التعليم الإلكتروني لمنتسبيه التعلم في أي مكان وفي أي وقت طالما كان لديهم حاسب مناسب, مثلما يتيح لكم الهاتف الخلوي الإتصال في أي وقت وعادة من أي مكان طالما كان لديكم جهاز هاتف مناسب.
ج. أهداف التعليم الإلكتروني
أهداف التدريب عن التعليم الإلكتروني هي تسعي معظم برامج التدريب عن بعد في مختلف أنحاء العالم إلي تحقيق مجموعة من الأهداف نذكر منها:
1. خلق بيئة تعليمية تعلمية من خلال تقنيات الإلكترونية جديدة والتنوع في مصادر المعلومات والخبرة
2. تعزيز العلاقة بين أوليآء الأمور والمدرسة، وبين المدرسة والبيئة الخارجية.
3. دعم عملية التفاعل بين الطلاب والمتعلمين والمساعدين من خلال تبادل الخبرات التربوية والآراء والمناقشات والحوارات الهادفة.
4. إكساب المعلمين المهارات التقنية لاستخدام التقنيات التعليمية الحديثة
5. تعزيز المنهج من خلال القيام بأنشطة الإلكترونية
6. تزويد المتعلم بمهارات العلم الذاتي
7. تطور دور المعلم فى العملية التعليمية حتى يتواكب مع التطورات العلمية التكنولوجية المتلاحقة.
8. جعل التدريب أكثر مرونة وتحريره من القيود المعقدة حيث تتم الدراسة دون وجود عوائق زمانية ومكانية كالاضطرار للسفر لمراكز الجامعات و معاهد التدريب
9. الإسهام في رفع المستوي الثقافي والعلمي والاجتماعي لدي أفراد المجتمع
10. سد النقص في أعضاء هيئة التدريس والمدربين المؤهلين في بعض المجالات ، كما يعمل علي تلاشي ضعف الإمكانيات.
د. أهمية التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 25) أن من أهمية التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. يعتبر التعليم الإلكتروني مفيد في تنمية المدرسين مهنيا، خاصة الذين يعملون بنظام الدوام fulltime حيث يجدون صعوبة في حضور المقررات التقليدية المقدمة داخل الحرم الجامعي.
2. يفيد التعليم الإلكتروني في تغير طريقة أسلوب جمع المادة العلمية والبحثية التي يحتاجها الطلاب لأداء واجباتهم.
3. يساعد التعليم الإلكتروني على تعلم اللغة الأجنبية.
4. يمكن للتعليم الإلكتروني أن يفيد الطلاب غير القادرين وذوي الاحتياجات الخاصة وكذلك الطلاب غير القادرين على السفر يوميا إلى المدرسة بسبب ارتفاع كلفة المواصلات أو تعطله وسائل المواصلات العامة.
5. يساعد التعليم الإلكتروني على التعلم الذاتي والذي يسهل فيه المعلم للمتعلم الدخول إلى مجتمع المعلومات.
6. يفيد التعليم الإلكتروني قطاع كبير من العاملين في المؤسسات المختلفة
7. يكون للتعليم الإلكتروني ذا فاعلية لسكان المجتمعات الذاتية باستخدام تكنولوجيا المعلومات والاتصالات في مجال التعليم والتدريب.
ﻫ. فوائد التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 70) أن من فوائد التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. الحصول على مواد تعليمية أكثر
2. قدرة أحسن على محتوى التعلم
3. الملائمة
4. التطبيق العملي
5. المرونة
6. الدمج العالمي للمفاهيم والمصطلحات الجديدة
7. زيادة التفاعل بين الزملاء حيث التعلم التعاوني
8. زيادة التفاعل بين أكثر من معلم متاح عبر شبكة الانترنت
9. زيادة جودة التعلم و التركيز على مهارات التفكير التأملي النقدي
10. مساعدة الطلاب على الكشف عن ممارسة مهنية أفضل واكتساب معارف جديدة
و. عيوب التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 71) أن من عيوب التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. ارتفاع كلفة التعليم الإلكتروني في كل مقرر من مقررات الفصول الدراسية في السنة الواحدة في مقابل التعليم التقليدي.
2. انتقاء العلاقة الحميمة بين الأستاذ والطالب.
3. الأضرار البدنية والذهنية التي يمكن أن تصيب الطالب من كثرة الجلوس والتركيز أمام الحاسوب والتعامل مع الانترنت خاصة الأضرار التي ربما تصيب العين من الأشعة المنعكسة من الشاشات وآلام الظهر وما إلى ذلك.
4. قد لا يكون كل الطالب قادرا على التعامل مع الحاسوب، وذلك حسب القدرات الذاتية أو الفروق الفردية بين الأشخاص.
5. قد يلغي التعليم الإلكتروني عادات ومهارات القراءة وهي قيمة تربوية
6. قد يلغي التصفح الإلكتروني التعايش الوجداني الذي يحدث بالنسبة للكتاب الورقي حيث أن الكتاب الورقي يساعد القارئ أن يقرأ ما بين السطور ويصل بخياله مع ما يقصده المؤلف من معان وأفكار وتفسيرات ويكتسب خبرات تربوية عديدة، كسرعة الفهم والاستيعاب والشعور بالمتعة الفكرية والوجدانية خلال معايشته للكتاب المطبوع التقليدي.
ز. أنواع التعليم الإلكتروني
عرف عامر (2007: 28) أن من أهم أنواع التعليم الإلكتروني ما يلي:
1. التعلم المعتمد على الكمبيوتر، وهو التعلم الذي يتم بواسطة الكمبيوتر وبرمجياته ويتيح هذا النوع من التعلم إمكانية تفاعل المتعلم مع المحتوى التعليمي دون الفاعل مع المعلم أو الأقران.
2. التعلم المعتمد على الشبكات، وهو التعلم الذي فيه توظف إحدى الشبكات ومن أهمها:
أ. التعلم المعتمد على الشبكة المحلية LAN
ب. التعلم المعتمد على الشبكة النسيجية أو العنكبوتية WEB
ج. التعلم المعتمد على الانترنيت INTERNET
3. التعلم الرقمي، وهو الذي يتم من خلال وسائط تكنولوجيا المعلومات والاتصالات الرقمية (الكمبيوتر وشبكاته، شبكة الكابلات التلفزيونية، أقمار البث الفضائي...)
4. التعلم عن بعد، وهو التعلم الذي يتم من خلال كافة وسائط التعلم سواء التقليدية (المواد المطبوعة، أشرطة التسجيل، الراديو، التلفزيون...) أو الحديثة (الكمبيوتر وبرمجياته وشبكته، القنوات الفضائية والهاتف النقال أو المحمول...) ويكون فيه الطالب بعيدا مكانيا أو زمانيا أو الاثنين معا عن المعلم.
ح. دور المعلم في التعليم الإلكتروني
تعد شبكة الإنترنت نظام لتبادل الاتصال والمعلومات اعتمادا على الحاسوب، حيث يحتوي نظام الشبكة العالمية على ملايين الصفحات المترابطة عالميا والتي يمكن من خلالها الحصول على الكلمات والصوت وأفلام الفيديو والافلام التعليمية وملخصات رسائل الدكتورة والماجستير والابحاث التعليمية المرتبطة بهذه المعلومات من خلال الصفحات المختارة. أن الاستخدام الواسع للتكنولوحيا وشبكة الانترنيت العالمية أداى إلى تطور مذهل وسريع في العملية التعليمية كما أثر في طريقة أداء المعلم وانجازاتها في غرفة الصف حيث صنع طريقة جديدة للتعليم ألا وهي طريقة التعليم الالكتروني والذي يعتبر تعليم جماهيري يقوم على أساس فلسفة تؤكد حق الإفراد في الوصول إلى الفرص التعليمية المتاحة بمعنى أنه تعليم مفتوح لجميع الفئات لا يتقيد بوقت وفئة من المتعلمين ولا يقتصر على مستوى أو نوع معين من التعليم. فهو يتناسب وطبيعة حاجات المجتمع وأفراده وطموحاته وتطور مهنهم ولا يعتمد على المواجهة بين المعلم والمتعلم وإنما على نقل المعرفة والمهارات التعليمية إلى المتعلم بواسائط تقنية متطورة ومتنوعة مكتوبة ومسموعة ومرئية تغني عن حضوره إلى داخل غرفة الصف.
وتتطلب هذه الطريقة من المعلم أن يلعب أدوار تختلف عن الدور التقليدي المحصور في كونه محددا للمادة الدراسية شارحا لمعلومات الكتاب المدرسي منتقيا للوسائل التعليمية، متخذا للقرارت التربوية وواضعا للاختبارت التقويمية، فاصبح دوره يرتكزعلى تخطيط العملية التعليمية وتصميمها وإعدادها على العملية التعليمية علاوة على كونه مشرفا ومديرا وموجها ومرشدا ومقيما لها. فالمعلم في هذه الطريقة يحاول أن يساعد الطلاب ليكونوا معتمدين على أنفسهم نشطين مبتكرين وصانعي مناقشات ومتعلمين ذاتيين بدل أن يكونوا مستقبلي معلومات، فهي بذلك تحقق النظريات الحديثة في التعليم المعتمدة والمركزة على المتعلم وتحقق أسلوب التعلم الذاتي له. وسوف نتطرق إلى مفهوم التعليم الإلكتروني ومستوياته ودوره في تحسين الذاكرة قبل أن نفصل دور المعلم في عصر التعليم الإلكتروني لغرض ربط الموضوع وزيادة المعرفة الإلكترونية التي لها علاقة به والقصد منها التوصيف النظري للتعليم الإلكتروني .
قد يتبادر إلى ذهن من يقرأ عنوان الموضوع، أننا بإدخال تقنية الحاسب والتعليم الإلكتروني نلغي دور المعلم في العملية التربوية التعليمية فالتعليم الإلكتروني لا يعني إلغاء دور المعلم بل يصبح دوره أكثر أهمية وأكثر صعوبة فهو شخص مبدع ذو كفاءة عالية يدير العملية التعليمية باقتدار ويعمل على تحقيق طموحات التقدم والتقنية . لقد أصبحت مهنة المعلم مزيجا من مهام القائد ومدير المشروع البحثي والناقد والموجه،
ولكي يكون دور المعلم فعالاً يجب أن يجمع المعلم بين التخصص والخبرة مؤهلاً تأهيلاً جيداً ومكتسباً الخبرة اللازمة لصقل تجربته في ضوء دقة التوجيه الفني .
ولا يحتاج المعلمون إلى التدريب الرسمي فحسب بل والمستمر من زملائهم لمساعدتهم على تعلم أفضل الطرق لتحقيق التكامل ما بين التكنولوجيا وبين تعليمهم . ولكي يصبح دورالمعلم مهما في توجيه طلابه الوجهة الصحيحة للاستفادة القصوى من التكنولوجيا على المعلم أن يقوم بما يلي :
1) أن يعمل على تحويل غرفة الصف الخاصة به من مكان يتم فيه انتقال المعلومات بشكل ثابت وفي اتجاه واحد من المعلم إلى الطالب إلى بيئة تعلم تمتاز بالديناميكية وتتمحور حول الطالب حيث يقوم الطلاب مع رفقائهم على شكل مجموعات في كل صفوفهم وكذلك مع صفوف أخرى من حول العالم عبر الإنترنت .
2) أن يطور فهما عمليا حول صفات واحتياجات الطلاب المتعلمين
3) أن يتبع مهارات تدريسية تأخذ بعين الاعتبار الاحتياجات والتوقعات المتنوعة والمتباينة للمتلقين
4) أن يطور فهما عمليا لتكنولوجيا التعليم مع استمرار تركيزه على الدور التعليمي الشخصي له .
5) أن يعمل بكفاءة كمرشد وموجه حاذق للمحتوى التعليمي
ومما لاشك فيه هو أن دور المعلم سوف يبقى للأبد وسوف يصبح أكثر صعوبة من السابق , فالتعليم الإلكتروني لا يعني تصفح إنترنت بطريقة مفتوحة ولكن بطريقة محددة وبتوجيه لاستخدام المعلومات الإلكترونية وهذا يعتبر من أهم أدوار المعلم.
ولأن المعلم هو جوهر العملية التعليمية لذا يجب عليه أن يكون منفتحا على كل جديد وبمرونة تمكنه من الإبداع والابتكار.
الدور الذي يضطلع به المعلم في التعليم بشكل عام دور هام للغاية لكونه أحد أركان العملية التعليمية ، وهو مفتاح المعرفة والعلوم بالنسبة للطالب ، وبقدر ما يملك من الخبرات العلمية والتربوية ، وأساليب التدريس الفعالة ، يستطيع أن يخرّج طلاباً متفوقين ومبدعين ، وفي التعليم الإلكتروني تزداد أهمية المعلم ويعظم دوره ، وهذا بخلاف ما يظنه البعض من أن التعليم الإلكتروني سيؤدي في النهاية إلى الاستغناء عن المعلم.
وفي الواقع فإن التعليم الإلكتروني لا يحتاج إلى شيء بقدر حاجته إلى المعلم الماهر المتقن لأساليب واستراتيجيات التعليم الإلكتروني ، المتمكن من مادته العلمية ، الراغب في التزود بكل حديث في مجال تخصصه ، المؤمن برسالته أولا ثم بأهمية التعلّم المستمر .
التعليم الإلكتروني يحتاج إلى المعلم الذي يعي بأنه في كل يوم لا تزداد فيه خبرته ومعرفته ومعلوماته فإنه يتأخر سنوات وسنوات ، لذا فإن من المهم جداً إعداد المعلم بشكل جيد حتى يصل إلى هذا المستوى الذي يتطلبه التعليم الإلكتروني ، وهذا لا يمكن أن يتأتي في ظرف أيام أو أشهر معدودة بل يحتاج الأمر إلى عمل دؤوب وجهد متواصل وتوعية دائمة .
كما أن الأمر ليس كما يفهمه البعض من أن عدة دورات في الحاسب الآلي على بعض التطبيقات يمكن أن تخرج لنا معلماً إلكترونياً ، فهناك العديد من المعلمين الذين يجيدون استخدام الحاسب الآلي إلى درجة الاحتراف ولكنهم غير قادرين على توظيف هذه المعرفة في العملية التعليمية والتربوية والممارسات الفصلية ، بسبب غياب فلسفة التعليم الإلكتروني واستراتيجياته.
ومنهم من يوظفها توظيفاً تقليدياً ، يسيء إلى التعليم الإلكتروني أكثر مما يفيده ، وذلك عندما تستخدم التقنية مع نفس ممارسات التعليم التقليدي فيكون بذلك كمن يلطخ وجه عجوز بمساحيق جميلة.
إن المعلم لكي يصبح معلماً إلكترونياً يحتاج إلى إعادة صياغة فكرية أولاً يقتنع من خلالها بأن طرق التدريس التقليدية يجب أن تتغير لتكون متناسبة مع العلم المعرفي الهائل التي تعج به كافة مجالات الحياة ، ولا بد أن يقتنع بأنه لن يصنع وحيداً رجال المستقبل الذين يعول عليهم المجتمع والأمة في صنع الأمجاد وتحقيق الريادة.
إذاً لابد له من تعلم الأساليب الحديثة في التدريس والاستراتيجيات الفعالة والتعمق في فهم فلسفتها وإتقان تطبيقها ، حتى يتمكن من نقل هذا الفكر إلى طلابه فيمارسونه من خلال أدوات التعليم الإلكتروني.
يشير نبهان (2008: 29) إلى أن المعلم له أدوار جديدة، وهي:
1. تحقيق التعلم الفعال بأقصى مشاركة للطلبة
2. التنويع في أساليب التعليم لتتواءم والحاجات المتنوعة للطلبة، وتراعي الفروق الفردية بينهم
3. استخدام نشاطات يكون الطلبة فيها هم المحور بحيث يملكون الخيارات ويتمكنون من تحديد مدى تحقيق أهدافهم
4. استخدام تطبيقات من الحياة اليومية بحيث تربط ما يتعلمه الطلبة بحياتهم العملية، وبما يمكن البناء عليه مستقبلا.
قال ابن عبد العزيز(2008: 14) أن دور المعلم يتغير من مجرد ناقل للمعلومات إلى معلم قادر على القيام بدور الميسر والموضح والمقوم والمرشد والمدرب والمحتدى والقائد البناء، ويوضح شكل تلك التحولات كما يلي:
الممارسات التربوية من إلى
الأنشطة الصفية التمركز حول المعلم التمركز حول المتعلم
دور المعلم قارىء للحقائق، ومصدرا وحيدا للمادة التعليمية متعاون، متعلم، مرشد، ومدرب ...
دور المتعلم مستمع ومتلق للمعلومات متعاون، مكتشف، باحث وخبير فى المادة التعليمية
الأهداف التعليمية التركيز على الحقائق بناء العلاقات المساعدة على الابتكارية في الأداء
مفهوم المعرفة مجرد تراكم للحقائق بنائية هادفة
دليل النجاح كمية الحقائق التي يستطاع تذكرها الجودة فى الفهم
التقويم خطى – معياري المرجع غير خطى – محكي المرجع
ويمكن تلخيص كل من التحولات التي تحدث فى النموذج لاستخدام تكنولوجيا في ثمان تحولات تتمثل فيما يلي:
1. من التعلم الخطى إلى التعلم غير الخطى متعدد الوسائط
2. من التدريس إلى البناء والاكتشاف
3. من التمركز حول المعلم إلى التمركز حول المتعلم
4. من الحفظ إلى معرفة طرق الوصول إلى المعرفة (كيف تتعلم)
5. من التعليم المدرسي إلى التعليم مدى الحياة وفي أي مكان
6. من التعليم المفروض على الجميع إلى التعليم المكيف بحسب طبيعته
7. من المدرسة كمكان تعذيب إلى المدرسة كمصدر للمتعة
8. من المعلم كمرسل إلى المعلم كميسر لحدوث التعلم.
ويشير زين الدين (330:2007) إلى تحسين مستوى الكفايات في تكنولوجيا المعلومات للمعلمين الجدد في فصول التعليم أنه :
1. يجب على مؤسسات الإعداد التربوي رفع مستوى دمج التكنولوجيا في برنامج الإعداد بشكل عام.
2. يجب أن يتم تشجيع وتدعيم أعضاء هيئة التدريس لوضع نماذج لدمج التكنولوجيا.
3. يجب أن تعهد كليات التربية بخطة في تكنولوجيا المعلومات تركز على دمج هذه التكنولوجية في عمليتي التعليم والتعلم وليس على توفير الأجهزة والتسهيلات التكنولوجية.
وللمعلم في عصر الانترنت دور مرتبط بأربع مجالات (محمود نصر، 123:2007) هي :
1. تصميم التعليم
2. توظيف التكنولوجيا
3. تشجيع تفاعل الطلاب
4. تطوير التعلم الذاتي
ط. الفرق بين التعليم الإلكتروني والتعليم التقليدي
الفروقات بين التعليم التقليدي والتعليم الإلكتروني:
الرقم نموذج التعليم التقليدي نموذج التعليم الإلكتروني
1 المدرس هو المصدر الأساسي للتعليم المدرس هو موجه ومسهل لمصادر التعليم
2 المتعلم يستقبل أو يستسقى المعرفة المتعلم يتعلم عن طريق الممارسة والبحث الذاتي
3 المتعلم يعمل مستقلا بدون الجماعة (إلى حد ما) المتعلم يتعلم في مجموعة ويتفاعل مع الآخرين
4 كل المتعلمين يتعلمون ويعملون نفس الشيئ المتعلم يتعلم بطريقة مستقلة عن الآخرين وحسن ظروفه
5 المدرس يتحصل على تدريب أولى ومن ثم على التدريب عند الضرورة المدرس في حالة تعلم مستمر أو متواصل حيث يبدأ بالتدريب الأولى ويستمر بدون انقطاع
6 المتعلم المتميز يستكشف ويعطى له الفرصة في تكميل تعليمه المتعلم له فرصة الحصول على التعليم والمعرفة بدون عوائق مكانية أو زمانية ومدى الحياة
7 يعتمد على الحفظ والاستظهار ويركز على الجانب المعرفي لدى المتعلم على حساب الجوانب الأخرى يعتمد على طريقة حل المشكلات وينمي لدى المتعلم قدرته الإبداعية الناقدة
8 المعلم ناقل وملقن للمعلومات دور المعلم هو الإرشاد والتوجيه والنصح والمساعدة وتقديم المشورة
9 تقبل أعداد محدودة كل عام دراسي وفقا للأعداد المتاحة يسمح بقبول أعداد غير محدودة من أنحاء العالم
ي. الإختتام
كما على المعلم أن يجعل درسه مرغوبا فيه لدى الطلاب خلال طريقة التدريس التي يتبعها ، ومن خلال استثارة فاعلية التلاميذ ونشاطهم . ومن الأهمية بمكان أن نؤكد على أن المعلم هو الأساس . فليست الطريقة هي الأساس ، وإنما هي أسلوب يتبعه المعلم لتوصيل معلوماته وما يصاحبها إلى التلاميذ.
وأما دور المعلم في التعليم الإلكتروني، منها: متعاون ومتعلم ومرشد ومدرب وموجه ومسهل لمصادر التعليم.
المراجع العربية:
1. حمدى أحمد بن عبد العزيز، 2008. التعليم الإلكتروني، الفلسفة-المبادئ-الأدوات-التطبيقات. دار الفكر، عمان – الأردن
2. يحيى محمد نبهان، 2008. الأساليب الحديثة في التعليم والتعلم . دار اليازوري العلمية، عمان- الأردن
3. حسن بن أحمد محمود نصر، 2007. تصميم البرمجيات التعليمية وإنتاجها. مكتبة الملك فهد – جدة
4. محمد محمود زين الدين، 2007. كفايات التعليم الإلكتروني. كلية المعلمين بجدة السعودية. جامعة قناة السويس – مصر
5. طارق عبد الرؤوف عامر، 2007. التعليم والمدرسة الإلكترونية . دار السحاب، جمهورية مصر العربية
6. زكريا يحيى وعلياء عبد الله الجندي، 2005. الاتصال الإلكتروني وتكنولوجيا التعليم. مكتبة العبيكان جامعة أم القرى- مكة المكرمة
7. صالح بن مبارك الدباسي وبدر الدين عبد الله الصالح، 2005. تكنولوجيا التعليم الماضي والحاضر والمستقبل. مكتبة الملك فهد، جامعة الملك سعود – الرياض
2. www.ksu.edu.sa/sites/KSUArabic/Student
19 Apr 2009
materi study tasawuf
KULIAH STUDI TASAWUF
FAKULTAS HUMANIORAN /BAHASA SASTRA ARAB
Standar Kompetensi :
Mahasiswa mampu memahami hakikat Tasawuf dan mengetahui peranan serta perkembangannya, baik Sunni, maupun Falsafi untuk membangun dasar-dasar nilai bagi pengembangan kepribadian dan peningkatan wawasan keilmuan yang rahmatan lil alamin
Materi Bahasan :
• Pengertian tasawuf dan posisinya dalam khazanah intelektual Islam
• Landasan dan dasar-dasar tasawuf
• Sejarah lahir dan perkembangan tasawuf
• Mengenal macam-macam tasawuf (akhlaqi dan falsafi)
• Sejarah kelahiran Ordo / thariqat dan karakternya
• Dzikir dan zuhud dalam kehidupan duniawi
• Maqamat dalam tasawuf
• Ahwal dalam tasawuf
• Sufi dan tangung jawab sosial
• Tasawuf dalam kehidupan modern
• Kajian Tokoh (karakter dan pemikiran)
1. Hasan Bashri
2. Ibrahim bin Adham
3. Rabi’ah al-Adawiyah
4. Abu Yazid al-Busthami
5. Junaid al-Baghdadi
6. Imam al-Ghazali
7. Abd al-Qadir al-Jailani
8. Ibn Arabi
9. Jalaluddin Rumi
10. Abd al-karim al-Jilli
11. Haidar Amuli
Makna " مالك الملك
Makna " مالك الملك "
Dalam Perspektif Al-Qur'an
A. Pendahuluan
Akhir-akhir ini predikat yang melekat pada manusia sebagai "khalifah" di muka bumi mulai dipertanyakan. Eksistensi manusia sebagai Tuhan kedua –meminjam istilahnya Siti Gazalba- rupa-rupanya sudah mulai di cabut oleh Allah SWT karena kebodohan, kesombongan, kecongkaan, ketamakan dan ketidak becusan manusia menjaga amanah Allah SWT yaitu mengatur dan merawat bumi.
Padahal gelar خليفة الله في الارض merupakan anugerah bagi manusia yang diberikan Allah SWT agar semata-mata manusia memelihara bumi, merawat dan melestarikannya yang kesemuanya diperuntukan kembali bagi manusia itu sendiri. Namun sebaliknya, mereka justru merusak, membinasakan, menghancurkan bahkan mendzolimi bumi dengan keserakahan dan ketamakan mereka.
Allah SWT sudah mencabut beberapa kenikmatan yang telah diberikan kepada manusia yaitu ketenangan dan ketidak pastian. Manusia diliputi rasa takut dan cemas akan banjir banding, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, angin putting beliung yang muncul kapan saja.
Manusia adalah makhluk sangat lemah, tidak ada apa-apanya. Allah SWT telah menampakkan kekuasaan-Nya, Penguasa langit dan bumi seisinya, dlohir batin, pemilik kerajaan مالك الملك .
Semoga label "Khalifah" yang disebut dalam al-Qur'an sebanyak 127 kali dalam 12 kata jadian (al-Munawar,2001: 3) benar-benar tidak dicabut oleh Allah SWT, dan bukan bencana seperti yang ditimpakan pada kaum Ad-nya Nabi Sholeh AS, serta bukan banjir banding pada kaumnya Nabi Nuh AS, Na'udzubillah ..
Oleh karena itu, melihat tanda-tanda tercabutnya kenikmatan, terambilnya kemuliaan di sisi manusia dan mereka mulai dihempaskan dalam kehinaan, penulis terketuk ingin mengupas salah satu sifat Allh SWT " " مالك الملك melalui kajian tafsir tematik ini.
B. Kata " " مالك الملكdalam Perspektif Al-Qur'an
1. Pengertian مالك الملك
مالك الملك adalah rangkaian dua kata yaitu, al-Malik dan al-Mulk, keduanya terambil dari akar kata mim, lam dan kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan keshahihan. Kata itu pada mulanya berarti ikatan dan penguatan, yang merupakan salah satu dari 99 sifat Allah SWT (Shihab,2003: 89).
"Al-Malik" adalah sifat Allah SWT nomor empat setelah lafadz Allah, al-Rahman, al-Rahim yang mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan keshahihannya. Al-Malik yang biasa diterjemahkan raja, penguasa atau pemilik adalah "yang menguasai dan menangani perintah dan larangan, anugerah dan pencabutan" karena itu biasanya kerajaan terarah pada manusia, tidak kepada barang yang sifatnya tidak dapat menerima perintah dan larangan.
"Al-Mulk" mempunyai arti kerajaan. Malik al-Mulk berarti pemilik kerajaan, adalah Dia yang terlaksana kehendakNya dalam wilayah kerajaanNya, bagaimana dan dengan cara bagaimanapun, dalam bentuk mewujudkan atau meniadakan, mempertahankan atau mencabut (Qutb, jilid 2: 49)
2. Kata مالك الملكdalam al-Qur'an
Kata Malik terulang dalam al-Qur'an sebanyak lima kali, tiga diantaranya di dalam surat al-Zukhruf 77, surat al-Fatihah 4 dan surat al-Nas 2, sedang dua diantaranya di rangkai dengan kata "Haq" dalam arti pasti dan sempurna yaitu dalam surat Thoha 114 dan surat al-Mukminun 116.
Sedangkan rangkaian kata مالك الملك hanya ditemukan satu kali saja dalam al-Qur'an, yaitu dalam surat Ali Imran 26:
قل اللهم مالك الملك تؤتى الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيئ قدير (آل عمران:26)
Artinya: "Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di Tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Sedangkan kata Malik dalam
و نادو يا مالك ليقض علينا ربك قال إنكم ماكثون (الزخرف:77)
Artinya: Mereka (yang disiksa di neraka) berseru: Hai Malik, biarlah Tuhanmu menghabisi (membunuh) kami saja, Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)".
Kata Malik dalam surat al-Zukhruf ini adalah malaikat penjaga neraka yang bernama malaikat malik.
Kata Malik dalam
مالك يوم الدين (الفاتحة: 4)
Artinya : "Yang menguasai hari pembalasan"
Malik (dengan memanjangkan mim) berarti Pemilik. Sedangkan Malik (dengan memendekan mim) berarti Raja Yaumuddin (hari pembalasan), hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalan baik maupun buruk, yaumuddin disebut juga dengan yaumul qiyamah, yaumul hisab dan yaumul jaza' (Shihab,2003: 56)
Kata Malik dalam
مالك الناس (الناس:2)
Artinya: "Raja manusia"
Kata Malik dalam
فتعلى الله الملك الحق ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقصى إياك وحيه وقل ربي زدني علما (طه:114)
Artinya: "Maha Tinggi Allah SWT Raja yang sebenar-benarnya dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukan kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan"
Kata Malik dalam
فتعلى الله الملك الحق لآله إلا هو رب العرش الكريم (المؤمنون:116)
Artinya: "Maka Maha Tinggi Allah SWT Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan kecuali Ia (yang mempunyai) Arsy yang mulia".
قل اللهم مالك الملك تؤتى الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيئ قدير . تولج الليل في النهار وتولج النهار في الليل وتخرج الحي من الميت وتخرج الميت من الحي وترزق من تشاء بغير حساب (آل عمران:26)
- Asbabun Nuzul
Sebab-sebab turunnya ayat:
قل اللهم مالك الملك تؤتى الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء وتعز من تشاء وتذل من تشاء بيدك الخير إنك على كل شيئ قدير . تولج الليل في النهار وتولج النهار في الليل وتخرج الحي من الميت وتخرج الميت من الحي وترزق من تشاء بغير حساب (آل عمران:26)
Kerajaan yang dimaksud diatas adalah kerajaan duniawi. Ini terbukti dari kandungan ayat itu, yang menunjukan bahwa kerajaan-Nya dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dicabutnya dari siapa yang dikendaki-Nya. Pencabutan tersebut menunjukan bahwa ia tidak mungkin dianugerahkan di akhirat, karena anugerah Ilahi di
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa segala kebajikan terletak di tangan-Nya baik kenafian, kekayaan atau kekuasaan, ini menunjukan bahwa Allah SWT sendirilah yang memberikannya menurut kemauan-Nya.
Dalam ayat ini disebutkan kebajikan saja karena disesuaikan dengan keadaan. Keadaan yang mendorong orang-orang kafir menentang dan meremehkan dakwah Nabi Muhammad SAW karena kemiskinan beliau, kelemahan pengikut-pengikutnya serta kecilnya jumlah mereka. Maka oleh sebab itu Allah SWT menyuruh Nabi untuk berlindung kepada yang memiliki segala yang memiliki segala kerajaan. Yang di tangan-Nya segala kekuasaan dan kemulyaan. Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa segala kebaikan ada di tangan-Nya. Maka tidak ada yang menghalangi-Nya apabila Dia memberikan kemiskinan dan kekayaan kepada Nabi-Nya atau kepada orang-orang mu'min yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
ونريد أن نمن على الذين استضعفوا في الأرض ونجعلهم أئمة ونجعلهم الوارثين (القصص:5)
Artinya:Dan kami hendak memberi karunia bagi orang –orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).
Allah SWT jualah yang memberikan kekuasaan kepada orang yang Dia kehendaki, dan menghinakan orang yang dikehendaki pula. Orang yang diberi kekuasaan adalah orang yang didengar tutur katanya, menguasai jiwa manusia, dengan wibawanya dan ilmunya berguna bagi manusia, mempunyai kekuasaan rizki serta berbuat baik kepada segenap manusia.
Adapun orang yang mendapat kehinaan adalah yang rendah jiwanya dan merasa lemah membela kehormatan, tidak mampu mengusir musuhnya yang berupa hawa nafsu dan tidak bersatu padu padahal tidak ada satu kemuliaan dapat dicapai tanpa persatuan untuk menegakan kebenaran dan menentang kedzaliman (Shihab,2003: 90)
Banyak sedikitnya suatu umat tidaklah menjamin untuk mewujudkan kekuasaan dan menghimpun kekuatan. Orang-orang musyrik Makkah, orang-orang yahudi dan orang munafiq Arab telah tertipu oleh banyaknya pengikut disbanding dengan pengikut Rasulullah saw.
Fakta menjadi bukti bahwa jumlah yang banyak saja tidaklah menunjukan kekuatan. Lihatlah bangsa-bangsa timur mereka jumlahnya banyak tetapi dikuasai oleh bangsa barat yang berjumlah lebih sedikit, disebabkan merajalelanya kebodohan di timur dan perpecahan dan peperangan yang terjadi di antara mereka sendiri.
Penggalan ayat " بيدك الخير" di Tangan Engkaulah segala kebajikan. Setelah pernyataan bahwa Dia مالك الملك dengan kedua manifestasinya, yaitu menganugerahkan dan mencabut kekuasaan dari siapa saja yang dikehendakiNya. Penggalan ayat tersebut memberi isyarat bahwa kerajaan yang di milikiNya selalu diarahkan untuk kebajikan, hikmah dan kemaslahatan, bukan untuk menganiaya atau berlaku sewenang-wenang. Di sisi lain, kesempurnaan kekuasaan-Nya dilukiskan dengan kata "menganugerahkan" yang memberi kesan pemberian dengan lemah lembut. Berbeda dengan kata "mencabut" yang mengesankan pengambilan dengan keras, disebabkan yang bersangkutan sedemikian keras mempertahankan kekuasaan dan kerajaan yang dinikmatinya, bagaikan telah berurat akar dalam dirinya namun Allah Swt kuasa mencabutnya.
Manusia yang dianugerahi Allah Swt. Kekuasaan atau kerajaan dalam kehidupan ini –apapun bentuk dan berapapun kadarnya- harus menyadari bahwa kerajaan tersebut adalah Anugerah Allah Swt, kapan saja dapat dicabut dan dianugerahkan kepada yang lain. Kesadaran ini mengantarkannya untuk tidak berlaku sebagaimana raja, karena raja-raja seperti ucapan Ratu kerajaan
قالت إن الملوك إذا دخلوا قرية أفسدوها وجعلوا أعزة أهلها أذلة وكذلك يفعلون ( آل عمران:34 )
Artinya: "Dia berkata: sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina".
Yang dianugerahi kekuasaan harus mengelolah kekuasaannya dengan baik serta kebaikan untuk seluruh rakyatnya. Sebaliknya ia tidak boleh membiarkan kejahatan. Karena itu, siapa yang durhaka dan membangkang, harus diperingatkan dan dicabut kekuasaannya sampai ke akar-akarnya.
Manusia, paling tidak adalah raja atas dirinya, karena itu seluruh anggota tubuhnya harus dapat ditundukan dan bekerjasama untuk tujuan kebajikan sesuai dengan tuntunan Ilahi. Siapa yang membangkang, harus diperingatkan dan kejahatan yang ditimbulkan harus dicabutnya. Singgasana manusia adalah qolbunya ank arena itu jangan sampai ada yang duduk di singgasana itu selain dirinya sendiri, selanjutnya karena kerajaannya adalah anugerah Allah Swt, maka manusia harus terus mengingat dan mengagungkan Allah Swt demikian manusia yang meneladani Allah Swt dalam sifat ini.
D. Allah SWT adalah Pemilik Kerajaan
Dalam al-Qur'an tanda-tanda kepemilikan kerajaan adalah kehadiran banyak pihak kepadaNya untuk memohon agar dipenuhi kebutuhanya atau untuk menyampaikan persoalan-persoalan besar agar dapat tertanggulangi dan terselesaikan. Allah SWT melukiskan betapa yang Maha Kuasa itu melayani kebutuhan makhluqNya.
يسئله من في السموات والأرض كل يوم هو في شأن (الرحمن:29)
Artinya: "Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan"
Maksudnya Allah SWT senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi risky dan lain-lain. Kerajaan Allah SWT adalah yang sempurna dan haq, sedang raja atau kerajaan lainnya tidak demikian. Kerajaan Allah SWT mencakup kerajaan langit dan bumi (Irawan,1992: 110)
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan sabda Rosululloh saw. melalui Abu Hurairah ra, yang artinya: " Allah SWT Maha Mulia lagi Maha Agung 'menggenggam' bumi pada hari kemudian, dan 'melipat' semua langit dengan tangan kananNya, kemudian berseru, "Aku adalah al-Malik/Raja, maka dimanakah mereka yang mengaku raja?
فسبحان الذي بيده ملكوت كل شيء واليه ترجعون (يس:83)
Artinya: "Maha Suci Allah SWT yang dalam genggaman tanganNya kerajaan segala sesuatu (yang tidak terjangkau oleh indra)".
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT mempunyai kekuasaan tertinggi dan Maha Bijaksana dengan tindakanNya yang sempurna dalam menyusun, mengurus, dan merampungkan segala perkara dan yang menegakan neraca undang-undang di dalam ala mini, maka Allah SWT lah yang memberikan kerajaan/kekuasaan serta pangkat kenabian kepada siapa yang dikehendakiNya, seperti kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim merupakan anak dari seorang pembuat dan pemahat patung sampai meninggalpun dia masih dalam kafir. Allah SWT juga mencabut kekuasaan orang yang Dia kehendaki di sebabkan mereka berpaling dari jalan lurus, jalan yang dapat memelihara kekuasaan karena meninggalkan keadilan, berlaku curang dalam berkuasa, hal ini pernah menimpa terhadap bani Israil dan bangsa-bangsa lain disebabkan kedzaliman dan kerusakan budi pekerti mereka.
E. Tujuan Memahami Kata "مالك الملك "
مالك يوم الدين adalah termasuk ayat yang diajarkan untuk di baca setiap muslim dalam sholat, ayat ini bermakna bahwa ketika itu kekuasaan dan kerajaan Tuhan sedemikian menonjol sehingga tidak ada satu makhluk pun yang tidak merasakannya, tidak satu pun yang berani membangkangnya, lagi tidak sesaat-pun terhitung dalam benak mereka pengingkaran, berbeda dengan kekuasaan dan kerajaan-Nya dalam kehidupan ini, yang tidak dirasakan oleh semua makhluk serta tidak menonjol di hari kemudian nanti. Karena itu di dunia ini ada saja diantara mereka yang membangkang dan yang mengaku sebagai Tuhan.
Allah SWT adalah Raja dan Penguasa Lahir dan Batin. Dalam al-Qur'an di temukan istilah "malakut" kata ini biasa di artikan dengan 'kerajaan dan kekuasaan' yang menyangkut hal-hal yang tidak terjangkau oleh indra.
Imam Ghazali menjelaskan makna 'Malik' yang merupakan salah satu Asma al-Husna dengan menyatakan bahwa 'malik' adalah yang tidak butuh pada dzat dan sifat-Nya segala yang wujud, bahkan dia adalah yang butuh kepada-Nya yang menyangkut segala sesuatu, baik pada dzat, sifat, wujud dan kesinambungan eksistensinya. Bahkan wujud segala seuatu, bersembur dari-Nya. Maka segala sesuatu selain-Nya menjadi milik-Nya dalam zat dan sifatnya dan membutuhkan-Nya. Dimikian itulah raja yang mutlak.
Allah SWT adalah raja sekaligus pemilik, ما لك ا لملك pemilik kerajaan. Kepemilikan Allah SWT berbeda dengan kepemilikan mahkluk. Allah SWT berwenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya, berbeda dengan manusia, sebagai contoh, jika anda memiliki pembantu, maka walaupun anda berwenang untuk memperkerjakannya sesuai dengan kehendak anda, tetapi anda tidak menguasai perasaan dan pikirannya. Anda tidak berkuasa menghentikan peredaran darah dan denyut jantungnya. Anda tidak memiliki dan menguasainya pada saat-saat istirahat atau hari-hari liburannya, bahkan jangankan manusia, pemilikan terhadap mahkluk tak bernyawapun tidak sampai pada suatu tingkat pemilikan mutlak. Bukankah jika anda mempunyai sebuah cangkir, anda tidak bebas melempar dan memecahkannya, karena jika anda lakukan anda akan mendapat kecaman,karena manusia mahkluk bertanggung jawab atas segala aktifitasnya. Berbeda dengan Allah SWT Dia tidak dikecam atas apapun yang dilakukan-Nya, karena pertimbangan pikiran manusia tidak menjadi ukuran yang pasti terhadap perbuatannya.
Sementara pakar berkata raja adalah siapa yang memiliki wewenang pengaturan, baik terhadap dirinya melalui kemampuan mengendalikan keuatan dan mengarahkan nafsunya, maupun terhadap pihak lain. Manusia tidak dapat menjadi raja mutlak karena tidak dapat menghilangkan dari dirinya kebutuhan akan segala sesuatu, dia selalu butuh kepada Allah SWT, Allah SWT adalah penguasa hakiki dan dalam saat yang sama dia menguasai kerajaan karena "bala tentara dan rakyat" yang dimilikinya runduk dan taat kepada-Nya. Imam Ghazali mengilustrasikan kerajaan adalah kalbu dan wadah kalbunya, bala tentara adalah syhwat, amarah dan nafsunya, rakyatnya adalah lidah, mata, tangan, telinga dan seluruh anggota badannya.
Bila semua itu dikuasai dan bukan mereka yang dikuasai mereka, jika semua itu mentaatinya dan bukan dia taat kepadanya, maka ketika itu ia tetap mencapai tingkat kerajaan di alamnya. Kalau bergabung apa yang di gambarkan di atas membutuhkannya dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi mereka, maka dialah yang menyandang sifat malik di alam duniawi, ini adalah peringkat para nabi. Mereka tidak membutuhkan siapapun dalam meraih hidayah untuk kebahagiaan akhirat kecuali Allah SWT,sebaliknya semua orang membutuhkan bimbingannya, peringkat di bawah para nabi adalah ulama dan cendekiawan. Kadar kerajaan mereka sesuai dengan kadar kemampuan mereka menuntun manusia serta sesuai pula dengan kadar ketidak butuhan mereka terhadap bimbingan dan petunjuk orang lain. Dengan sifat-sifat tersebut seorang manusia mendekati Malaikat dalam sifat-sifatnya, kemudian dia mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui sifat-sifat itu. Kerajaan yangf di gambarkan di atas adalah anugerah Allah SWT jua yang merupakan raja yang mutlak yang tidak dapat di sentuh kekuasaan-Nya.
Allah SWT adalah Malikal-Mulk, seluruh wujud adalah kerajaan-Nya yang walaupun banyak dan beraneka ragam, tetapi merupakan satu-kesatuan. Kesatuan kerajaan itu diibaratkan oleh al-Ghazali dengan manusia, yang walau anggota badannya banyak dan beraneka ragam, tetapi keseluruhannya bekerja sama untuk memenuhi kehendak pemiliknya yakni manusia. Alam raya dan seluruh wujud merupakan kerajaan Allah SWT, tunduk kepada-Nya dan bekerja sama untuktujuan kebijakan sesuai dengan hikmah dan kemurahan ilahi.
F. Kesimpulan
Melihat dari pemaparan yang telah diungkapkan di atas, baik secara tekstual maupun pontekstual, maka dapat disimpulkan bahwasanya kekuasaan itu adalah milik Allah SWT, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki, dan dicabut-Nya kembali dari orang yang dikehendaki-Nya pula.
Dalam hal ini manusia haruslah berserah diri kepada Allah SWT pemilik semua kekuasaan itu. Apabila kekuasaan itu semakin dinampakkan oleh Allah SWT, orang-orang yang alim satu demi satu mulai diambil oleh Allah SWT.
Melihat fenomena yang nampak di muka bumi ini, maka perlu bagi manusia untuk keranya intropersi diri dengan apa yang telah terjadi terhadap peristiwa-peristiwa yang ada, maupun peringatan (warning) ynag datang dari Sang Khalik, hal ini juga dilihat dari semakin tuanya umur bumi yang kita pijak, yang sebagian ilmuwan mengatakan umur bumi kita ini sekarang ini kira-kira 15 milyar tahun lamanya,bahkan lebih. Bukti-bukti bahwa umur dunia ini sudah tua, dilihat dari berbagai pendekatan:
- Pendekatan Geologi; Ahkir-akhir ini alam sudah tidakbisa di prediksi lagi, kapan musim penghujan dan kapan musim panas,banjir dimana-mana, gunung-gunung banyak meletus,gempa bumi, tsunami kemarin, dll
- Pendekatan Sejarah; Hitungan tahun masehi berawal setelah wafatnya Isa al Masih 20 abad yang lalu,Nabi Isa A.S adalah Nabi ke 24 menginjak terakhir sebelum Nabi Muhammad SAW, padahal hitungan tahun usai bumi ini menurut teori big bang sekitar 15 milyar tahun yang lalu.
- Pendekatan Agama; Kita semua adalah manusia yang hidup di generasi yang paling ujung, karena kita hidup setelah wafatnya Nabi Muhammad 14 abad lalu. Padahal setelah Muhammad tidak ada Nabi atau Utusan lagi. Alangkah jauhnya kehidupan kita sekarang dengan wafatnya Rosululloh SAW.
Inilah yang harus kita renungkan kembali, sungguh bahwa dunia sudah sangat tua renta, yang seakan-akan sudah tidak kuat lagi menahan beban yang diakibatkan oleh ketamakan manusia, dengan melali beberapa warning yang di berikan pada manusia. Warning-warning semacam Gladi Resik dalam kehidupan mausia. Oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali harus berserah diri, kita mengakui bahwa Allah SWT Maha Perkasa, Pemilik Alam Semesta, Pemilik Kerajaan "ما لك ا لملك".
Wallahu A'lam
Pustaka:
Said Aqil Husein Munawar, Konsep Kepemimpinan Menurut Al-Qur'an, makalah dalam
Islam Humanis, PT.Moyo Segoro Agung, 2001.
M. Quraish Syihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Lentera Hati,
Sayyid Qutb, Tafsir Fi Dhilalil Qur'an, Jilid 2,
M. Quraisy Syihab, Tafsir al-Misbah, Jilid II, Lentera Hati,
M. At-Thoba' Thaba'i, Tafsir Mizan, Jilid 3,
H.M.J. Irwan, Al-Qur'an dalam studi Perbandingan, Pt. Al-Ma'arif,