27 Okt 2011

القاموس المحيط

مقدمة

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

أما بعد فإن الله سبحانه قد كرَّم الإنسان وفضله بالنطق على سائر الحيوان، وشرَّف هذا اللسان العربيَّ بالبيان على كل لسان، وكفاه شرفا أنه به نزل القرآن، وأنه لغة أهل الجنان. روي عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله أحبوا العرب لثلاث : لأني عربيّ والقرآن عربيّ وكلام أهل الجنة عربيّ .

العربية أكثر لغات المجموعة السامية متحدثينَ، وإحدى أكثر اللغات انتشارًا في العالم، يتحدثها أكثر من 422 مليون نسمة،1 ويتوزع متحدثوها في المنطقة المعروفة باسم الوطن العربي، بالإضافة إلى العديد من المناطق الأخرى المجاورة كالأحواز وتركيا وتشاد ومالي السنغال وإرتيريا. اللغة العربية ذات أهمية قصوى لدى المسلمين، فهي لغة مقدسة )لغة القرآن)، ولا تتم الصلاة (وعبادات أخرى) في الإسلام إلا بإتقان بعض من كلماتها. العربية هي أيضا لغة شعائرية رئيسية لدى عدد من الكنائس المسيحية في الوطن العربي، كما كتبت بها الكثير من أهم الأعمال الدينية والفكرية اليهودية في العصور الوسطى. وأثّر انتشار الإسلام، وتأسيسه دولاً، في ارتفاع مكانة اللغة العربية، وأصبحت لغة السياسة والعلم والأدب لقرون طويلة في الأراضي التي حكمها المسلمون، وأثرت العربية، تأثيرًا مباشرًا أو غير مباشر على كثير من اللغات الأخرى في العالم الإسلامي، كالتركية والفارسية والكردية والأوردية والماليزية والإندونيسية والألبانية وبعض اللغات الإفريقية الأخرى مثل الهاوسا والسواحيلية، وبعض اللغات الأوروبية وخاصةً المتوسطية منها كالإسبانية والبرتغالية والمالطية والصقلية. كما أنها تدرس بشكل رسمي أو غير رسمي في الدول الإسلامية والدول الإفريقية المحاذية للوطن العربي.

العربية لغة رسمية في كل دول الوطن العربي إضافة إلى كونها لغة رسمية في تشاد وإريتيريا وإسرائيل. وهي إحدى اللغات الرسمية الست في منظمة الأمم المتحدة.تحتوي العربية على 28 حرفًا مكتوبًا. ويرى بعض اللغويين أنه يجب إضافة حرف الهمزة إلى حروف العربية، ليصبح عدد الحروف 29. تكتب العربية من اليمين إلى اليسار - مثلها اللغة الفارسية والعبرية وعلى عكس الكثير من اللغات العالمية .

إن هذا الكنز الثمين والثروة القيمة من المصطلحات والتعابير التي بين أيدكم إنما هي ثمرة جهود طويلة وشاقة استمرت لعدة سنوات من أجل تحقيق الهدف المطلوب وهو القدرة على المحادثة والكتابة والترجمة إلى اللغة الهدف بسهولة ويسر.

قال ابن منظور في مقدمته (اللسان: المقدمة : 7) "إني لم أزل مشغوفا بمطالعات كتب اللغات والاطلاع على تصانيفها وعلل تصاريفها ورأيت علماءها بين رجلين : أما من أحسن جمعه فإنه لم يحسن وضعه، وأما من أجاد وضعه فإنه لم يُجد جمعه فلم يُفد حسنُ الجمع مع إساءة الوضع ولا نفعت إجادةُ الوضع مع رداءة الجمع. ولم أجد في كتب اللغة أجمل من تهذيب اللغة لأبي منصور محمد بن أحمد الأزهري، ولا أكمل من المحكم لأبي الحسن علي بن إسماعيل بن سيده الأندلسي رحمهما الله وهما من أمّهات كتب اللغة على التحقيق وما عداهما بالنسبة إليهما ثنيَّات للطريق، غير أن كُلّا منهما مطلب عسر المهلك ومنهل وعر المسلك وكأنَّ واضعه شرع للناس موردا عذبا وجلاهم عنه وارتاد لهم مرعًى مربعًا ومنعهم منه قد أخّر وقدّم وقصد أن يُعرب فأعجم"

21 Okt 2011

PENGELOLAAN INFORMASI MANAJEMEN KURIKULUM PBA

Syaiful Mustofa

A.Pendahuluan
Sejarah membuktikan bahwa peran dan sumbangan madrasah tidaklah kecil terhadap hajad "mencerdaskan kehidupan bangsa". Sumbangan itu lebih nampak besar lagi bila kita saksikan betapa madrasah yang berdiri secara tradisional atas prakarsa dan partisipasi masyarakat melalui semangat lillahi ta'ala. Sekarangpun masih sangat banyak kita saksikan betapa madrasah mampu melayani kebutuhan pendidikan warga masyarakat, dimana menjangkau seluruh wilayah Republik Indonesia yang belum berhasil dijangkau oleh sekolah umum melalui sistem sekolah konvensional atau sekolah inpres. Pengalaman juga membuktikan bahwa tidak selamanya reputasi madrasah "kalah" bersaing dengan sekolah umum. Kini bisa kita saksikan adanya madrasah yang memiliki prestasi dan reputasi lebih dari sekolah umum. Para pengelola madrasah seyogyanya segera melihat dan membaca kecenderungan fenomena ini sebagai peristiwa belajar, khususnya bagi upaya berlomba meraih prestasi, meningkatkan mutu layanan madrasah, dan yang menimbulkan dampak positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara (Soedomo, 1995).
Dalam rangka antisipasi kecenderungan masa depan madrasah yang akan berkompetsi dengan lembaga lain, maka manajemen madrasah harus ditata ulang. Manajamen yang selama ini lebih mengandalkan faktor intuisi dan pengalaman, harus diganti dengan manajemen moderen yang lebih menekankan pada keterbukaan dan sikap visioner. Manajemen moderen memberikan peluang mengakomodasikan pihak-pihak berkepentingan untuk “urun rembuk” secara positif terhadap peningkatan kinerja madrasah, yang terefleksikan dalam perumusan visi, misi, tujuan dan program-program prioritas madrasah yang disusun secara kolaboratif. Dengan demikian, kondisi sarana prasarana pendidikan, mutu sumber daya manusia, dan dukungan pembiayaan bagi pengembangan madrasah, sesuai aspirasi pihak-pihak yang berkepentingan dengan madrasah (Puslitbang Penda dan Keagamaan, 2001).
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau ICT (information communication and technology) yang ditambah dengan fasilitas internet memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam suatu institusi pendidikan. Dengan keterlibatan TIK dalam konteks pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tingkat tinggi memunculkan istilah baru yaitu smart school. Sementara dalam konteks perguruan tinggi, keterlibatan TIK memunculkan berbagai istilah baru juga, seperti cyber university, cyber campus, village university, virtual university, virtual classroom, digital campus dan istilah lain terkait dengan pelayanan elektronik. Istilah-istilah tersebut menuntut pimpinan institusi pendidikan untuk melakukan perubahan paradigma dalam memanfaatkan TIK. Unesco dalam beberapa publikasi formalnya menegaskan betapa pentingnya keberadaan dan pemanfaatan TIK di dalam lingkungan sistem pendidikan dasar dan menengah. Spektrum pemanfaatan TIK pada sistem pendidikan adalah sebagai alat bantu atau sarana belajar mengajar sampai dengan fungsi TIK sebagai alat bantu penyelenggaraan atau manajemen pendidikan di sekolah (Indrajit: 2005).

30 Des 2010

Makna Lir-ilir Kanjeng Sunan

Lagu lir-ilir ini disebarkan lagi oleh group musik kyai kanjeng, yang sekian ratus tahun lamanya lagu ini menjadi lagu wajib bagi masyarakat jawa pasundan pada waktu itu.

Bukan sekedar lagu dolanan .. tapi lagu penuh makna mendalam. Tidak untuk dinikmati syair dan nadanya semata, tapi lebih penting adalah untuk direnungkan dan dicontoh penyeruannya. Kalau cuman sekedar menikmati musikna saja lebih bagus kalau mendengarkan komposisi Lir-Ilir karya Handel dalam konser harpa “Harp to Heart” yang menampilkan The World Harp Ensemble (WHE), Selasa (28/5), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. (Ada yang punya? minta dong).
Lir ilir ini ciptaan Sunan Kalijogo, ada juga yang mengatakan Sunan Giri, ada juga yang mengatakan Sunan Ampel. Wallahu a’lam yang penting adalah ciptaan salah satu dari mereka yang insyaAllah mencerminkan seruan para wali itu semua.

Am Am C Am Dm
Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir (Lir ilir, lir ilir tanamannya sudah mulai bersemi)
>> lir-ilir : Sayup-sayup bangun (dari tidur), tanaman : agama Islam.

C Dm
Tak ijo royo – royo (Hijau Royo royo)
>> agama Islam tumbuh subur di Tanah Jawa. Yakni hijau sebagaiman simbol umum agama Islam. Dalam politik indonesia pun dulu ada istilah “penghijauan di MPR”, dimana MPR yang dulu (sebelum 1989) banyak didominasi non muslim mulai terisi oleh praktisi2 dari kelompok Islam. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja2 jawa yang baru masuk Islam. Make sense juga …

F Am
Tak sengguh temanten anyar (demikian menghijau bagaikan pengantin baru)
>> sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level mula, seperti penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya.

Am Am C Am Dm
Cah angon – cah angon penekno blimbing kuwi (Anak-anak penggembala, panjatkan pohon blimbing itu )
>> Kenapa kok cah angon ? Hadits Rasul “Al-Imaamu Ro’in” (Imam adalah Pemimpin/Penggembala). Ro’in dalam bahasa arab artinya secara bahasa penggembala dan secara urf (adat arab) juga untuk menyebut sebagai pemimpin.

>> Kenapa Belimbing : Inget : belimbing itu warnanya ijo (ciri khas Islam) dan memiliki sisi 5. Jadi, belimbing adalah isyarat agama Islam itu sendiri, yang tercermin dari 5 sisi buah belimbing yang menggambarkan Rukun Islam.

>> Kenapa penekno (ambilkan) : Inilah seruan tholabun nushroh para wali kepada para penguasa di Jawa, agar mereka bersedia mengambil Islam itu agar masyarakat bisa mengikuti langkahnya dan dengan itu aturan Islam dapat diterapkan ke masyarakat. Tidak mungkin Islam terterapkan kaffah tanpa ada kemauan penguasa “mengambil” Islam sebagai agama dan sistemnya. Para penafsir lagu lir-ilir kebanyakan tidak sasmito terhadap penggunaan kata2 penekno belimbing ini .. Kalau cuman sekedar belimbing sih biasanya anak kecil juga bisa ambil sendiri, tapi ini menggunakan kata “penekno” yang artinya adalah ambilkan buah itu untuk saya, kami dan mereka semua. Dan juga bukan peneken (panjat dan ambil untuk dirimu sendiri). Jelas ini artinya adalah seruan para wali agar raja bersedia mengimplementasikan Islam untuk masyarakat umum.

C Dm F Am
Lunyu – lunyu peneen kanggo mbasuh dododiro (Biar licin tetap panjatkan untuk mencuci pakaian-mu)
>> dodod : sejenis pakaian jawa (dNux : saya juga tidak tahu sperti apa, katanya sih seperti kemben)
>> walaupun berat ujiannya, walaupun banyak rintangannya karena masuk agama Islam itu berkonsukuensi luas baik secara keluarga, sosial dan politik, maka tetap anutlah Islam untuk membersihkan aqidahmu dan menyucikan dirimu dari dosa dosamu. Demikian juga pasti sangat berat rintangan untuk melaksanakan syariat Islam itu ditengah masyarakat, karena pasti akan berhadapan dengan agama, adat istiadat serta sistem yang telah terbangun dimasyarakat.

Am Am C Am Dm
Dododiro – dododiro kumitir bedah ing pinggir
Pakainmu itu tertiup2 angin dan sobek di pinggir pinggirnya
>> kumitir : bayangkan kain yang dijemuran dan tertiup2 angin lalu terlihat pinggir kain itu sobek2. Yang dimaksud disini adalah ketika para raja itu sudah masuk Islam, maka masih ada hal hal yang belum Islam kaffah, masih ada cacat2 di aqidah-nya sebab masih terpengaruh oleh hindu jawa
>> Bedah ing pinggir : barangkali yang dimaksud pinggir sini adalah masyarakat bawah (pinggiran), dimana pada mereka masih kurang memahami dan kurang melaksanakan Islam sebab banyak masyarakat awam belum tersentuh dakwah atau belum komitmen di Islam.

C Dm F Am
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore )
>> Betulkanlah penyimpangan2 itu baik pada dirimu atau pada masyarakatmu untuk persiapan kematianmu
>> sebo : menghadap = sowan. Mengko sore : nanti sore (waktu ajal). Usia senja : usia tua mendekati masa akhir.
>> Pesan dari para wali bahwa kamu itu wahai raja .. pasti akan mati dan akan menemui Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan diri, keluarga dan masyarakat yang kamu pimpin. Maka benahilah dan sempurnakanlah keislamanmu dan keislaman masyarakatmu agar kamu selamat di Hari Pertanggung Jawaban (yaumul Hisab).

G Am
Mumpung pandang rembulane (Selagi terang (sinar) bulan-nya)
>> Para wali mengintatkan agar para raja melaksanakan hal itu mumpung masih terbuka pintu hidayah menerima Islam dan masih banyak ulama2 yang bisa mendampingi beliau untuk memberikan nasehat dan arahan dalam menerima dan menerapkan Islam.

G Am
Mumpung jembar kalangane (Mumpung luas kesempatannya)
>> Mumpung si Raja masih menduduki jabatan sebagai penguasa. Nanti perkaranya atau kesempatan melaksanakan ini akan hilang bila raja tersebut sudah tidak menjadi penguasa.
>> Kesempatan apa ? usia atau pangkat/kedudukan ? Kalau yang dimaksud kesempatan adalah usia, maka ini kurang cocok. Bagaimanapun juga para wali juga tahu bahwa usia itu tidak bisa ditebak. Pangkat/kedudukan lebih masuk akal sebab masih bisa diduga kapan lengsernya ..
>> Bagi saya kalangan bisa juga berarti pendukung sehingga maknanya juga bisa : mumpung selagi banyak pendukungnya
>> bagian ini sangat menjelaskan bahwa lagu ini adalah tholabun nusrhoh para wali kepada raja raja agar raja memanfaatkan kesempatannya (sebagai raja) untuk disamping masuk Islam juga terlibat aktif dalam penyebaran dan pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya (tanah Jawa).

C Dm F G Am
Sun surako surak hiyo (Mari bersorak-sorak ayo…)
>> Sambutlah seruan ini dengan gembira “Ayo kita terapkan syariat Islam” …. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
>> Mustinya pejabat pusat (SBY) ataupun daerah (gubernur2, bupati2 dan wali2) sekarang ini juga dinyanyikan lagu ini. Kalau mereka waskito lan tanggap in sasmito (bijak dan tanggap terhada tanda2), maka mereka isnyaAllah akan bersedia melaksanakan syariat Islam. Harusnya dia (SBY) yang aktif dalam pengembangan syariat Islam mengingat dia adalah masih keturunan dari Kiai Agung Kasan Besari — alias MangkuNegoro II yang memilih sebagai ulama daripada menjadi raja, seorang ulama terkemuka di Jawa (setelah jaman para Wali) yang adalah penasehat sekaligus mertua Paku Buwono II, yang mana dari ulama ini adalah juga leluhur dari Gus Dur.
Bagaimana dengan kita ? adakah terpanggil dengan lagu lir-ilir ini? Atau apakah kita juga akan menyanyi (meyerukan) hal yang sama seperti apa yang diserukan para wali untuk menyeru penguasa ?

23 Des 2010

TANTANGAN BAHASA ARAB DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Dua hari saya berada di Kota Pekalongan dalam rangka menghadiri undangan panitia seminar bahasa arab, seminar yang dihadiri sekitar 250-an peserta itu dilaksanakan oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab STAIN Pekalongan pada hari Sabtu 11 Nopember 2010 kemarin bersama Prof. Dr. Mohamed Ali Kameel dan Dr. Faisal Mahmoud Adam Ibrahim, keduanya adalah Dosen Republik Sudan yang diperbantukan di UIN Maliki Malang, dan saya sangat gembira dan bahagia sekali melihat antusias peserta seminar yang di dominasi mahasiswa dan guru.

Seminar dengan topic tantangan bahasa arab dalam dunia pendidikan itu terasa memang sangat menarik untuk dibicarakan, karena bangsa Indonesia bangsa terbesar pemeluk Islam-nya di dunai itu boleh dibilang masih tertidur pulas, tentu dalam hal kemampuan berbicara bahasa arab. Padahal sadar atau tidak sadar bahasa arab itu kita butuhkan setiap hari, bahkan dalam hal tertentu wajib kita membacanya dengan berbahasa arab, kalau tidak maka hukumnya batal atau tidak sah, misal ketika kita melaksanakan salat lima waktu, membaca alqur’an dan al-hadits. Bahkan kalau kita sadar dan melakukan kuwajiban sebagai muslim taat, kita tidak henti-hentinya lisan ini bergerak untuk melafadkan kalimat yang berbahasa arab mulai bangun tidur sampai tidur lagi, misalnya dalam hal berdoa, sebagai seorang muslim seharusnya tidak melupakan berdoa jika akan melakukan sesuatu, misalnya setelah bangun tidur, ,masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, memakai baju, menyisir rambut, keluar rumah, berkendaraan, sampai kita akan tidur kembali mulut kita selalu bergerak dengan bahasa arab.

Bahasa Arab adalah bahasa agama, juga sekaligus bahasa komunikasi internasional. Dalam urutan rangking bahasa resmi yang dipakai dalam hubungan internasional versi PBB, bahasa Arab menempati urutan nomor lima setelah bahasa inggris, bahasa Prancis, bahasa Jerman dan bahasa Cina, dan digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh 450 juta muslim di dunia yang tersebar di Benua Afrika dan Semenanjung Arab. Jika saja penduduk Indonesia yang merupakan muslim terbesar didunia banyak yang menggunakan bahasa rab sebagai bahasa sehari, bisa dimungkinkan bahasa arab dalam hal ranking bahasa resmi internasional versi PBB akan naik menjadi yang nomor tiga atau bahkan nomor dua.

Sesuai tema seminar kemarin yang mengusung tentang tantangan bahasa arab dalam dunia pendidikan, saya jelaskan, bahwa tantangan terbesar bahasa arab dan pembelajarannya sebenarnya bukan dari luar (eksternal) akan tetapi dari diri (internal) dalam kita masing-masing. Sebelum belajar bahasa arab, secara psikologis seorang siswa sudah mengklaim bahwa bahasa arab adalah bahasa sulit dipelajari, jadi mareka negative thinking terlebih dahulu, ini yang menyebabkan siswa tidak ada semangat, lesu, malas, bahkan tidak ada niat sama sekali. Bagaimana mungkin pembelajaran bahasa arab bisa berhasil dengan efektif, jika sikap alergi, antipasti dan mati motivasi sudah terlebih dahulu menghantui pembelajaran itu sendiri.

Kelemahan kedua secara edukatif, bahasa arab diajarkan oleh guru dan dosen bahasa ada kelemahan secara metodologis dan persoalan system pendidikan. Persoalan metodologis berkaitan dengan bagaimana subtansi materi itu dipilih, dikemas, dan ditransformasikan kepada peserta didik, sehingga dapat dipahami dan dipraktikan dengan efektif dan efisien. Sedangkan persoalan system pendidikan berkaitan dengan kebijakan pemerintah terhadap bahasa arab, disain kurikulum dan posisi bahasa arab dalam pendidikan yang sering dianak tirikan, apalagi di hanya sebagai pelengkap bagi mata pelajaran atau hanya cukup diajarkan sekali pertemuan saja dalam satu minggu.
Seorang muslim taat idealnya adalah mempelajari bahasa arab sebagai bahasa ilmu dan bahasa budaya sebagai produk manusia, serta sebagai bahasa agama untuk memahami kitab sucinya, bagaimana bisa membaca al-quran dengan benar dan fasih jika tidak menguasai bahasa arab dengan baik dan benar, baik dari aspek makharijul huruf, tajwid, ashwat (suara) dan tanghim (intonasi). Juga dalam hal kitab-kitab klasik (kutub turotsy) kita harus menguasai bahasa arab dengan baik.

Oleh karena itu, guru bahasa arab sebelum mengajarkan materi tersebut kepada siswa, harus pandai-pandai memberi semangat dan memberi wawasan akan pentingnya bahasa arab dibanding bahasa-bahasa lainnya, bahwa bahasa arab bukan bahasa yang sulit dan rumit, akan tetapi bahasa yang mudah dan gampang dipelajarinya. Karena semangat dan wawasan ini berkaitan erat dengan niat seseorang, Jika seseorang niat sudah kuat, insyaallah yang lain akan mudah diataswi meskipun tanpa didampingi buku baik, guru yang professional dan segalanya terbatas saumpamanya. Wallahu ‘alam

28 Okt 2010

STRATEGI PEMBELAJARAN MUFRADAT

Pengertian Kosakata (al-Mufradât)

Kosakata (Inggris: vocabulary) adalah himpunan kata atau khazanah kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu. Kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut dan kemungkinan akan digunakannya untuk menyusun kalimat baru. Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan gambaran dari intelejensia atau tingkat pendidikannya.

Menurut Horn, kosakata adalah sekumpulan kata yang membentuk sebuah bahasa. Peran kosakata dalam menguasai empat kemahiran berbahasa sangat diperlukan sebagaimana yang dinyatakan Vallet adalah bahwa kemampuan untuk memahami empat kemahiran berbahasa tersebut sangat bergantung pada penguasaan kosakata seseorang. Meskipun demikian pembelajaran bahasa tidak identik dengan hanya mempelajari kosakata. Dalam arti untuk memiliki kemahiran berbahasa tidak cukup hanya dengan menghafal sekian banyak kosakata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kosakata merupakan kumpulan kata-kata yang membentuk bahasa yang diketahui seseorang dan kumpulan kata tersebut akan ia digunakan dalam menyusun kalimat atau berkomunikasi dengan masyarakat. Komunikasi seseorang yang dibangun dengan penggunaan kosakata yang tepat dan memadai menunjukkan gambaran intelejensia dan tingkat pendidikan si pemakai bahasa.

Pembelajaran mufradat adalah mampu menguasai mufradat, menerjemahkannya, dan mampu menggunakannya dalam jumlah (kalimat) yang benar. Artinya tidak hanya sekedar hafal kosakata tanpa mengetahui bagaimana menggunakannya dalam komunikasi yang sesungguhnya. Jadi dalam prakteknya setelah siswa memahami kosakata kemudian mereka diajari untuk menggunakannya baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan.

Menurut Ahmad Djanan Asifuddin, pembelajaran kosakata (al-mufradât) yaitu proses penyampaian bahan pembelajaran yang berupa kata atau perbendaharaan kata sebagai unsur dalam pembelajaran bahasa Arab.

Prinsip-prinsip dalam pemilihan mufradat yang akan diajarkan kepada pembelajar asing (selain penutur arab) adalah sebagai berikut:

1. Tawatur (Frequency), yaitu frekuensi penggunaan kata-kata yang tinggi dan sering itulah yang harus menjadi pilihan.

2.Tawazzu’ (Range), yaitu mengutamakan kata-kata yang banyak digunakan baik di negara Arab maupun di negara-negara non Arab atau di suatu negara tertentu yang mana kata-kata itu lebih sering digunakan.

3.Mutaahiyah (Availability), mengutamakan kata-kata atau kosakata yang mudah dipelajari dan digunakan dalam berbagai media atau wacana.

4.Ulfah (Familiarity), yakni mendahulukan kata-kata yang sudah dikenal dan cukup familiar didengar, seperti penggunaan kata شَمْسٌ lebih sering digunakan dari pada kata ذٌ كاءٌ , padahal keduanya sama maknanya.

5.Syumuul (Coverage), yakni kemampuan daya cakup suatu kata untuk memiliki beberapa arti, sehingga menjadi luas cakupannya. Misalnya kata يبت lebih luas daya cakupannya dari pada kata
منـزل .
6.Ahammiyah (Significance), yakni mengutamakan kata-kata yang memiliki arti yang signifikan untuk menghindari kata-kata umum yang banyak ditinggalkan atau kurang lagi digunakan.
7. ‘uruubah, yakni mengutamakan kata-kata Arab dari kata-kata serapan yang diarabisasi dari bahasa lain. Misalnya kata الهاتف , المذيـاع, التلفاز secara berurutan ini harus diutamakan pemilihannya dari pada kata التليفون , الراديو dan التلفزيون.
Pembelajaran mufrodat pada tingkat dasar
1. Menggunakan nyanyian/lagu dalam pembelajaran bahasa arab dapat dibedakan antara bernyanyi sambil belajar dan belajar sambil bernyanyi. Penggunaan lagu dalam pembelajaran mufradat dapat menghilangkan kejenuhan belajar, dan dapat memberikan kesenangan kepada pembelajar. dapat meningkatkan penguasaan mufradat atau menambah perbendaharaan mufradat,
2. Dengan menampilkan benda atau sampel yang di tunjukkan makna kata, contoh: pensil atau buku.
3. Mendengarkan dan menirukan bacaan,dan mengulang-ngulang bacaan.

Pembelajaran mufrodat pada tingkat menengah.
1. Menggunakan peragaan tubuh. Contoh guru membuka buku dalam menerangkan kata fathul kitab.
2. Menulis kata Penguasaan kosakata siswa akan sangat terbantu bilamana ia diminta untuk menulis kata-kata yang baru dipelajarinya (dengar, ucap, paham, baca) mengingat karakteristik kata tersebut masih segar dalam ingatan siswa.
3. Dengan bermain peran.
4. Menyebutkan antonym dan sinonimnya.
5. Menyebutkan kelompok katanya.
6. Menyebutkan kata dasar dan kata bentuknya.

Pembelajaran mufradat pada tingkat lanjut.
1. Menjelaskan makna kata dengan menjelaskan maksudnya.
2. Mencari makna kata dalam kamus.
3. Menerjemahkan ke dalam bahasa siswa.
4. Mengurutkan kata.
5. Meletakan kata dalam kalimat.
6. Memilih contoh kata yang baik
7. Menyusun kalimat
8. Memberikan harokat pada kata.

14 Okt 2010

STRATEGI PEMBELAJARAN TAROKIB

Pada pembahasan materi strategi pembelajaran tarokib di tingkat dasar, menengah dan lanjut, kami akan membahas terlebih dahulu tentang definisi dari tema tersebut. Definisi strategi berasal dari bahasa yunani yang berarti ilmu perang atau panglima perang, maka strategi adalah suatu seni merancang operasi dalam peperangan (Iskandarwassid:2009).

Definisi pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Dimyati, dkk:2005). Sedangkan menurut Knirk bahwa pembelajaran adalah setiap pembelajaran yang dirancang guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dalam konteks belajar-mengajar.

► Definisi tarokib adalah Seperangkat pola penataan kata dalam sesuatu bahasa.
Sedangkan strategi pembelajaran atau bisa disebut dengan teknik pengajaran adalah operasionalisasi metode. Karena itu, teknik pengajaran itu berupa rencana, aturan-aturan, langkah-langkah serta sarana yang pada prakteknya akan diperankan dalam proses belajar-mengajar di dalam kelas guna mencapai dan merealisasikan tujuan pembelajaran (Abdul Hamid, dkk: 2008).
Pendapat lain mengatakan dalam konteks pembelajaran bahwa strategi menurut Gagne (1974) berarti proses pembelajaran yang menyebabkan peserta didik berpikir untuk memecahkan masalah dalam mengambil keputusan (Iskandarwassid: 2009).

Strategi pembelajaran tarokib itu sendiri,dalam beberapa lembaga pendidikan seringkali dipisahkan menjadi dua, yaitu pembelajaran nahwu dan shorof. Keduannya memiliki karakteristik materi yang bebebeda. Dengan demikian, jika keduannya berdiri sendiri, maka strategi pembelajarannya tentu akan berbeda (Imam: 2009).

Kemudian arti tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim dalam materi pembahasan ini sebenarnya memiliki banyak arti, sesuai dengan konteks yang dimaksud pada tingkatannya, karena pada tiap-tiap tingkatan MI, MTs, MA dan marhalah jami’ah itu juga memiliki pembagian dalam tingkatan mubtadi’ , mutawasith dan mutaqoddim. Namun di sini kami lebih menspesifikasikan tingkat mubtadi’ setara dengan SD/MI, tingkat mutawasith setara dengan SMP/Tsanawiyah, begitu pun dengan tingkat mutaqoddim yakni setara dengan SMA/Aliyah.

Dari beberapa definisi arti di atas, telah kita ketahui arti strategi pembelajaran secara umum dan khusus, sehingga para pakar bahasa mengatakan bahwa mempelajari gramatikal merupakan media untuk mengevaluasi kalam dan kitabah seseorang وسيلة التقويم. pEserta didik dituntut untuk menghafal kaidah-kaidah dengan urutan secara tradisional yang terdapat dalam keseluruhan kitab nahwu dan shorof tanpa melihat kebutuhan peserta didik, sehingga hasilnya peserta didik hanya menguasai struktur bahasa Arab tanpa mengetahui cara mengimplementasikannya secara praktis.
Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid, baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.
Pada perkembangan terkini, pengajaran gramatikal mulai berubah pola ajar dengan mengaitkannya degan kebutuhan riil bahasa keseharian peserta didik yaitu berkisar pada pola-pola (uslub) yang digunakan dalam teks wacana, teks istima’ atau membahas kesalahan-kesalahan yang ada pada hasil karangan peserta didik. Pengajaran gramatika yang berdasarkan kebutuhan ini dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh peserta didik. Pola terakhir ini mendorong peserta didik untuk belajar qowaid secara sungguh-sungguh dan memiliki akses langsung bagi peserta didik dalam menentukan kata dan menyusun kalimat (zainuddin, dkk:2005)

Terdapat dua model pembelajaran nahwu yang dikenal dengan metode qiyasi dan istiqro’i. metode qiyasi ini diawali dengan menyajikan kaidah-kaidah dulu kemudian menyebutkan contoh-contoh’, sedangkan metode istiqroi merupakan kebalikan dari metode qiyasi, yakni pengajaran dimulai dengan menampilkan contoh-contoh kemudian disimpulkan menjadi kaidah-kaidah nahwu.
Adapun strategi dan langkah pembelajaran nahwu sesuai dengan dua metode diatas dalam penerapannya secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:


Penerapan metode qiyasi
1. Guru memulai pelajaran dengan mengutarakan tema tertentu.
2. Menjelaskan kaedah-kaidah nahwu
3. Meminta siswa untuk memahami dan menghafal kaidah-kaidah nahwu
4. Mengemukakan contoh-contoh yang berkaitan dengan kaidah
5. Memberikan kesimpulan pelajaran
6. Siswa diminta mengerjakan soal-soal latihan

Penerapan metode istiqroi
1. Guru memulai pelajaran dengan menentukan topik tertentu
2. Menampilkan contoh-contoh kalimat yang berhubungan dengan tema
3. Siswa diminta untuk membaca contoh-contoh tersebut
4. Guru menjelaskan kaidah nahwu yang terdapat dalam contoh
5. Guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang kaidah-kaidah nahwu
6. Siswa diminta untuk mengerjakan latihan-latihan
(Abdul Hamid, dkk:2008)

Contoh metode istiqro’I:
الأشجار في البستان (contoh ini adalah contoh susunan mubtada’ khobar, guru menjelaskan contoh tersebut dan menyuruh siswa untuk memperhatikan isim yang ada di awal kalimat yang bergaris bawah tersebut, dan guru menjelaskan bahwa kalimat yang ada diawal kalimat tersebut adalah mubtada’, sedangkan kalimat yang setelahnya adalah khobar).

Metode istiqroi ini dapat di terapkan di tingkatan SD/MI,SMP/ MTS dan SMA/MA, akan tetapi pada tingkatan mahasiswa, metode yang biasa digunakan terlebih dahulu adalah metode qiyasi meskipun mahasiswa tersebut belum pernah belajar tarokib.

Pemerolehan Sintaksis
Dalam bidang sintaksis, anak mulai berbahasa dengan mengungkapkan satu kata (bagian kata). Kata ini, bagi anak, sebanarnya hanyalah merupakan kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, ia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat. Seandainjya anak tersebut bernama Andi dan yang ingin dia sampaikan adalah Andi mau pipis, dia akan memilih di (untuk kata Andi), mo (untuk kata mau), dan pis (untuk kata pipis).
Chaer (2003) meringakas beberapa teoti yang terkait dengan pemerolehan Sintaksis. Pertama yaitu teori tata bahsa Pivot yang menerangkan bahwa anak cenderung menggunakan kata-kata fungsi yang bercirikan sebagai berikut:
 Terdapat pada awal atau akhir kalimat
 Jumlanya terbatas
 Jarang memunculkan kata baru
 Tidak muncul sendirian
 Tidak muncul bersamaan dalam satu kalimat, dan
 Selalu merrujuk pada kata-kata lain.
Teori kedua yaitu hubungannya tata bahasa nurani yang dikemukakan oleh Mc Neil. Mengatakan bahwa ucapan anak meskipun terdiri dari dua kata juga memiliki struktur kalimat yang menunjukkkan urutan Subjek-Verbal dengan posisi Objek sebagai opsional.
Ketiga yaitu hubungan tata bahasa dan informasi situasi yang berpijak dari teori Bloom bahwa hubungan tata bahas merujuk pada konteks atau informasi situasi berjumlah cukup. Hal ini disebabkan ketaksaan gabungan kata yang dihasilkan anak.
Keempat, teori kukulatif komplek yang dikemukakan Browm yang menyatakan bahwan pemerolehan sintaksis anak dimulai dari morfem yang dikuasai. Pada anak-anak hubungan-hubungan semantic tidak selalu sejalan dengan hubungan yang dir=terapkan oleh penutur dewasa.


Daftar Pustaka

• Hamid, Abdul, dkk. 2008. Pembelajaran Bahasa Arab . Malang: UIN Press
• Imam makru. 2009. Strategi pembelajaran bahasa arab aktif. Semarang: Need’s press
• Iskandarwassid, dkk. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa.Bandung: Rosdakarya
• Zaenuddin, dkk. 2005. Metodologi dan Strategi Alternatif. Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group.

24 Agu 2010

التعليم الإلكتروني ودوره لمعلمي اللغة العربية

أ‌- مقدمة
الإلكترونيات هي العلم والتقنية التي تختص بانتقال الدقائق المشحونة في مادة شبه موصلة، وهي فرع وثيق الصلة بعلم الكهرباء حيث تقوم الأجزاء الإلكترونية بالتحكم في الإشارة الكهربائية لتوليد النتائج المطلوبة. تؤدي الإلكترونيات دورا هاما في حياتنا اليومية, مثل التلفزيون والراديو وأنظمة الصوت والرادارات والأشعة السينية وأجهزة الاتصالات والضوئيات والطائرات والسيارات والآلاف من الأجهزة الإلكترونية الأخرى.
وكذلك في عملية التعليم والتعلم، نعيش الآن عصر التكنولوجيا التعليمية التي انعكس تأثيرها على التعليم الذي هو طريق التقدم والرقي لأي مجتمع، وإذا كان المعلم يمثل أحد أركان العملية التعليمية، فإن إعداد المعلم لا بد وأن يواكب التطور الحادث في التعليم، وهذا يدعو المؤسسات التربوية المهتمة بإعداد المعلم إلى إعادة النظر في برامج إعداد المعلم، والمداخل التربوية التي يقوم عليها إعداده وإضافة الجديد إليها والعمل على تحسين وتطوير القائم منها.
يسلط هذا البحث على دور المعلم في التعلم الإلكتروني حيث أن للمعلم مكانة خاصة في العملية التعليمية، بل إن نجاح العملية لا يتم إلا بمساعدة المعلم. فالمعلم ما يتصف به من كفاءات وما يتمتع به من رغبة وميل للتعليم هو الذي يساعد الطالب على التعلم ويهيئه لاكتساب الخبرات التربوية المناسبة. صحيح أن الطالب هو محور العملية التعليمية وأن كل شيء يجب أن يكيف وفق ميوله واستعداداته وقدراته ومستواه الأكاديمي والتربوي، إلا أن المعلم لايزال العنصر الذي يجعل من عملية التعليم والتعلم ناجحة وما يزال الشخص الذي يساعد الطالب على التعلم والنجاح في دراسته ومع هذا فإن دور المعلم اختلف بشكل جوهري بين الماضي والحاضر فبعد ان كان المعلم هو كل شيء فى العملية التعليمية هو الذي يحضر الدروس وهو الذي يشرح المعلومات وهو الذي يستخدم الوسائل التعليمية وهو الذي يضع الاختبارات لتقييم التلاميذ فقد أصبح دوره يتعلق بالتخطيط والتنظيم والإشراف على العملية التعليمية أكثر من كونه شارحا لمعلومات الكتابي المدرسي لابد لنا قبل الحديث عن دور المعلم في عصر الانترنيت والتعلم الالكتروني أن تستعرض دور المعلم بين القديم والحديث، حيث تغير دور المعلم تغيرا ملحوظا من العصر الذي كان يعتمد على الورقة والقلم كوسيلة للتعلم والتعليم إلى العصر الذي يعتمد على الحاسوب والانترنيت وهذا التغير جاء انعكاسا لتطور الدراسات فى مجال التربية بخاصة وما تمخضت عنه من نتائج وتوصيان، حيث كانت قديما تعتبر المعلم العنصر الأساسي فى العملية التعليمية والمحور الرئيسي لها، ولكنها الآن تعتبر الطالب المحور الأساسي، وتبعا لذلك فقد تحول الاهتمام من المعلم الذي كان يستأثر بالعملية التعليمية إلى الطالب الذي تتمحور حوله العملية التعليمية وذلك عن طريق إشراكه في تحضير وشرح بعض أجزاء المادة الدراسية، واستخدام الوسائل التعليمية والقيام بالتجارب المختبرية والميدانية بنفسه والقيام بالدراسات المستقلة وقيم أدائه أيضا، كل هذه المحاور سيناقشها البحث ولكنه يركز على دور المعلم في التعلم الإلكتروني.

ب‌- التعريف عن التعليم الإلكتروني
هناك عدة التعريفات عن التعليم الإلكتروني، منها:
يشير عامر (2007: 19) إلى أن التعليم الإلكتروني يعني: تقديم محتوى تعليمي (إلكتروني) عبر الوسائط المعتمدة على الكمبيوتر وشبكاته إلى المتعلم بشكل يتيح له إمكانية التفاعل النشط مع هذا المحتوى ومع المعلم ومع أقرانه سواء أكان ذلك بصورة متزامنة synchronous أم غير متزامنة asynchronous وكذا إمكانية إتمام هذا التعلم في الوقت والمكان وبالسرعة التي تناسب ظروفه وقدراته، فضلا إمكانية إدارة هذا التعلم أيضا من خلال تلك الوسائط.
عرّف الجندي (391:2005) التعليم الإلكتروني E-Learning على أنه التعلم الذي يعتمد على استخدام الوسائط الإلكترونية في الاتصال بين المعلمين والمتعلمين وبين المتعلمين والمؤسسة التعليمية برمتها، وهناك مصطلحات كثيرة تستخدم بالتبادل مع هذ1 المصطلح منها: Online Education, Web Based Education, Electronic Education وغيرها من المصطلح.
قال الموسى عميد كلية الحاسب والمعلومات بجامعة الإمام بالرياض http://www.al-soman.com أن التعليم الإلكتروني هو طريقة للتعليم باستخدام آليات الاتصال الحديثة من حاسب وشبكاته ووسائطه المتعددة من صوت وصورة و رسومات وآليات بحث ومكتبات إلكترونية وكذلك بوابات الإنترنت سواء كان عن بعد أو في الفصل الدراسي، المهم المقصود هو استخدام التقنية بجميع أنواعها في إيصال المعلومات للمتعلم بأقصر وقت وأقل جهد وأكبر فائدة)
أما قال الزركاني www.ksu.edu.sa/sites/KSUArabic/Student أن التعليم الإلكتروني هو صف دراسي يقوم بتأمين المادة الدراسية كما يقوم الهاتف الخلوي بتأمين المكالمة الهاتفية في محطة للحافلات، على سبيل المثال يتيح التعليم الإلكتروني لمنتسبيه التعلم في أي مكان وفي أي وقت طالما كان لديهم حاسب مناسب, مثلما يتيح لكم الهاتف الخلوي الإتصال في أي وقت وعادة من أي مكان طالما كان لديكم جهاز هاتف مناسب.
ج. أهداف التعليم الإلكتروني
أهداف التدريب عن التعليم الإلكتروني هي تسعي معظم برامج التدريب عن بعد في مختلف أنحاء العالم إلي تحقيق مجموعة من الأهداف نذكر منها:
1. خلق بيئة تعليمية تعلمية من خلال تقنيات الإلكترونية جديدة والتنوع في مصادر المعلومات والخبرة
2. تعزيز العلاقة بين أوليآء الأمور والمدرسة، وبين المدرسة والبيئة الخارجية.
3. دعم عملية التفاعل بين الطلاب والمتعلمين والمساعدين من خلال تبادل الخبرات التربوية والآراء والمناقشات والحوارات الهادفة.
4. إكساب المعلمين المهارات التقنية لاستخدام التقنيات التعليمية الحديثة
5. تعزيز المنهج من خلال القيام بأنشطة الإلكترونية
6. تزويد المتعلم بمهارات العلم الذاتي
7. تطور دور المعلم فى العملية التعليمية حتى يتواكب مع التطورات العلمية التكنولوجية المتلاحقة.
8. جعل التدريب أكثر مرونة وتحريره من القيود المعقدة حيث تتم الدراسة دون وجود عوائق زمانية ومكانية كالاضطرار للسفر لمراكز الجامعات و معاهد التدريب
9. الإسهام في رفع المستوي الثقافي والعلمي والاجتماعي لدي أفراد المجتمع
10. سد النقص في أعضاء هيئة التدريس والمدربين المؤهلين في بعض المجالات، كما يعمل علي تلاشي ضعف الإمكانيات.
د. أهمية التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 25) أن من أهمية التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. يعتبر التعليم الإلكتروني مفيد في تنمية المدرسين مهنيا، خاصة الذين يعملون بنظام الدوام fulltime حيث يجدون صعوبة في حضور المقررات التقليدية المقدمة داخل الحرم الجامعي.
2. يفيد التعليم الإلكتروني في تغير طريقة أسلوب جمع المادة العلمية والبحثية التي يحتاجها الطلاب لأداء واجباتهم.
3. يساعد التعليم الإلكتروني على تعلم اللغة الأجنبية.
4. يمكن للتعليم الإلكتروني أن يفيد الطلاب غير القادرين وذوي الاحتياجات الخاصة وكذلك الطلاب غير القادرين على السفر يوميا إلى المدرسة بسبب ارتفاع كلفة المواصلات أو تعطله وسائل المواصلات العامة.
5. يساعد التعليم الإلكتروني على التعلم الذاتي والذي يسهل فيه المعلم للمتعلم الدخول إلى مجتمع المعلومات.
6. يفيد التعليم الإلكتروني قطاع كبير من العاملين في المؤسسات المختلفة
7. يكون للتعليم الإلكتروني ذا فاعلية لسكان المجتمعات الذاتية باستخدام تكنولوجيا المعلومات والاتصالات في مجال التعليم والتدريب.
ﻫ. فوائد التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 70) أن من فوائد التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. الحصول على مواد تعليمية أكثر
2. قدرة أحسن على محتوى التعلم
3. الملائمة
4. التطبيق العملي
5. المرونة
6. الدمج العالمي للمفاهيم والمصطلحات الجديدة
7. زيادة التفاعل بين الزملاء حيث التعلم التعاوني
8. زيادة التفاعل بين أكثر من معلم متاح عبر شبكة الانترنت
9. زيادة جودة التعلم و التركيز على مهارات التفكير التأملي النقدي
10. مساعدة الطلاب على الكشف عن ممارسة مهنية أفضل واكتساب معارف جديدة.
و. عيوب التعليم الإلكتروني
عرّف عامر (2007: 71) أن من عيوب التعليم الإلكتروني ما يلي :
1. ارتفاع كلفة التعليم الإلكتروني في كل مقرر من مقررات الفصول الدراسية في السنة الواحدة في مقابل التعليم التقليدي.
2. انتقاء العلاقة الحميمة بين الأستاذ والطالب.
3. الأضرار البدنية والذهنية التي يمكن أن تصيب الطالب من كثرة الجلوس والتركيز أمام الحاسوب والتعامل مع الانترنت خاصة الأضرار التي ربما تصيب العين من الأشعة المنعكسة من الشاشات وآلام الظهر وما إلى ذلك.
4. قد لا يكون كل الطالب قادرا على التعامل مع الحاسوب، وذلك حسب القدرات الذاتية أو الفروق الفردية بين الأشخاص.
5. قد يلغي التعليم الإلكتروني عادات ومهارات القراءة وهي قيمة تربوية
6. قد يلغي التصفح الإلكتروني التعايش الوجداني الذي يحدث بالنسبة للكتاب الورقي حيث أن الكتاب الورقي يساعد القارئ أن يقرأ ما بين السطور ويصل بخياله مع ما يقصده المؤلف من معان وأفكار وتفسيرات ويكتسب خبرات تربوية عديدة، كسرعة الفهم والاستيعاب والشعور بالمتعة الفكرية والوجدانية خلال معايشته للكتاب المطبوع التقليدي.
ز. أنواع التعليم الإلكتروني
عرف عامر (2007: 28) أن من أهم أنواع التعليم الإلكتروني ما يلي:
1. التعلم المعتمد على الكمبيوتر، وهو التعلم الذي يتم بواسطة الكمبيوتر وبرمجياته ويتيح هذا النوع من التعلم إمكانية تفاعل المتعلم مع المحتوى التعليمي دون الفاعل مع المعلم أو الأقران.
2. التعلم المعتمد على الشبكات، وهو التعلم الذي فيه توظف إحدى الشبكات ومن أهمها:
‌أ. التعلم المعتمد على الشبكة المحلية LAN
‌ب. التعلم المعتمد على الشبكة النسيجية أو العنكبوتية WEB
‌ج. التعلم المعتمد على الانترنيت INTERNET
3. التعلم الرقمي، وهو الذي يتم من خلال وسائط تكنولوجيا المعلومات والاتصالات الرقمية (الكمبيوتر وشبكاته، شبكة الكابلات التلفزيونية، أقمار البث الفضائي...)
4. التعلم عن بعد، وهو التعلم الذي يتم من خلال كافة وسائط التعلم سواء التقليدية (المواد المطبوعة، أشرطة التسجيل، الراديو، التلفزيون...) أو الحديثة (الكمبيوتر وبرمجياته وشبكته، القنوات الفضائية والهاتف النقال أو المحمول...) ويكون فيه الطالب بعيدا مكانيا أو زمانيا أو الاثنين معا عن المعلم.
ح. دور التعليم الإلكتروني لمعلمي اللغة العربية
تعد شبكة الإنترنت نظام لتبادل الاتصال والمعلومات اعتمادا على الحاسوب، حيث يحتوي نظام الشبكة العالمية على ملايين الصفحات المترابطة عالميا والتي يمكن من خلالها الحصول على الكلمات والصوت وأفلام الفيديو والافلام التعليمية وملخصات رسائل الدكتورة والماجستير والابحاث التعليمية المرتبطة بهذه المعلومات من خلال الصفحات المختارة. أن الاستخدام الواسع للتكنولوحيا وشبكة الانترنيت العالمية أداى إلى تطور مذهل وسريع في العملية التعليمية كما أثر في طريقة أداء المعلم وانجازاتها في غرفة الصف حيث صنع طريقة جديدة للتعليم ألا وهي طريقة التعليم الالكتروني والذي يعتبر تعليم جماهيري يقوم على أساس فلسفة تؤكد حق الإفراد في الوصول إلى الفرص التعليمية المتاحة بمعنى أنه تعليم مفتوح لجميع الفئات لا يتقيد بوقت وفئة من المتعلمين ولا يقتصر على مستوى أو نوع معين من التعليم. فهو يتناسب وطبيعة حاجات المجتمع وأفراده وطموحاته وتطور مهنهم ولا يعتمد على المواجهة بين المعلم والمتعلم وإنما على نقل المعرفة والمهارات التعليمية إلى المتعلم بواسائط تقنية متطورة ومتنوعة مكتوبة ومسموعة ومرئية تغني عن حضوره إلى داخل غرفة الصف.
وتتطلب هذه الطريقة من المعلم أن يلعب أدوار تختلف عن الدور التقليدي المحصور في كونه محددا للمادة الدراسية شارحا لمعلومات الكتاب المدرسي منتقيا للوسائل التعليمية، متخذا للقرارت التربوية وواضعا للاختبارت التقويمية، فاصبح دوره يرتكزعلى تخطيط العملية التعليمية وتصميمها وإعدادها على العملية التعليمية علاوة على كونه مشرفا ومديرا وموجها ومرشدا ومقيما لها. فالمعلم في هذه الطريقة يحاول أن يساعد الطلاب ليكونوا معتمدين على أنفسهم نشطين مبتكرين وصانعي مناقشات ومتعلمين ذاتيين بدل أن يكونوا مستقبلي معلومات، فهي بذلك تحقق النظريات الحديثة في التعليم المعتمدة والمركزة على المتعلم وتحقق أسلوب التعلم الذاتي له. وسوف نتطرق إلى مفهوم التعليم الإلكتروني ومستوياته ودوره في تحسين الذاكرة قبل أن نفصل دور المعلم في عصر التعليم الإلكتروني لغرض ربط الموضوع وزيادة المعرفة الإلكترونية التي لها علاقة به والقصد منها التوصيف النظري للتعليم الإلكتروني .
قد يتبادر إلى ذهن من يقرأ عنوان الموضوع، أننا بإدخال تقنية الحاسب والتعليم الإلكتروني نلغي دور المعلم في العملية التربوية التعليمية فالتعليم الإلكتروني لا يعني إلغاء دور المعلم بل يصبح دوره أكثر أهمية وأكثر صعوبة فهو شخص مبدع ذو كفاءة عالية يدير العملية التعليمية باقتدار ويعمل على تحقيق طموحات التقدم والتقنية. لقد أصبحت مهنة المعلم مزيجا من مهام القائد ومدير المشروع البحثي والناقد والموجه،
ولكي يكون دور المعلم فعالاً يجب أن يجمع المعلم بين التخصص والخبرة مؤهلاً تأهيلاً جيداً ومكتسباً الخبرة اللازمة لصقل تجربته في ضوء دقة التوجيه الفني .
ولا يحتاج المعلمون إلى التدريب الرسمي فحسب بل والمستمر من زملائهم لمساعدتهم على تعلم أفضل الطرق لتحقيق التكامل ما بين التكنولوجيا وبين تعليمهم . ولكي يصبح دورالمعلم مهما في توجيه طلابه الوجهة الصحيحة للاستفادة القصوى من التكنولوجيا على المعلم أن يقوم بما يلي :
1) أن يعمل على تحويل غرفة الصف الخاصة به من مكان يتم فيه انتقال المعلومات بشكل ثابت وفي اتجاه واحد من المعلم إلى الطالب إلى بيئة تعلم تمتاز بالديناميكية وتتمحور حول الطالب حيث يقوم الطلاب مع رفقائهم على شكل مجموعات في كل صفوفهم وكذلك مع صفوف أخرى من حول العالم عبر الإنترنت .
2) أن يطور فهما عمليا حول صفات واحتياجات الطلاب المتعلمين
3) أن يتبع مهارات تدريسية تأخذ بعين الاعتبار الاحتياجات والتوقعات المتنوعة والمتباينة للمتلقين
4) أن يطور فهما عمليا لتكنولوجيا التعليم مع استمرار تركيزه على الدور التعليمي الشخصي له .
5) أن يعمل بكفاءة كمرشد وموجه حاذق للمحتوى التعليمي
ومما لاشك فيه هو أن دور المعلم سوف يبقى للأبد وسوف يصبح أكثر صعوبة من السابق , فالتعليم الإلكتروني لا يعني تصفح إنترنت بطريقة مفتوحة ولكن بطريقة محددة وبتوجيه لاستخدام المعلومات الإلكترونية وهذا يعتبر من أهم أدوار المعلم.
ولأن المعلم هو جوهر العملية التعليمية لذا يجب عليه أن يكون منفتحا على كل جديد وبمرونة تمكنه من الإبداع والابتكار.
الدور الذي يضطلع به المعلم في التعليم بشكل عام دور هام للغاية لكونه أحد أركان العملية التعليمية ، وهو مفتاح المعرفة والعلوم بالنسبة للطالب ، وبقدر ما يملك من الخبرات العلمية والتربوية ، وأساليب التدريس الفعالة ، يستطيع أن يخرّج طلاباً متفوقين ومبدعين ، وفي التعليم الإلكتروني تزداد أهمية المعلم ويعظم دوره ، وهذا بخلاف ما يظنه البعض من أن التعليم الإلكتروني سيؤدي في النهاية إلى الاستغناء عن المعلم.
وفي الواقع فإن التعليم الإلكتروني لا يحتاج إلى شيء بقدر حاجته إلى المعلم الماهر المتقن لأساليب واستراتيجيات التعليم الإلكتروني ، المتمكن من مادته العلمية ، الراغب في التزود بكل حديث في مجال تخصصه ، المؤمن برسالته أولا ثم بأهمية التعلّم المستمر .
التعليم الإلكتروني يحتاج إلى المعلم الذي يعي بأنه في كل يوم لا تزداد فيه خبرته ومعرفته ومعلوماته فإنه يتأخر سنوات وسنوات ، لذا فإن من المهم جداً إعداد المعلم بشكل جيد حتى يصل إلى هذا المستوى الذي يتطلبه التعليم الإلكتروني ، وهذا لا يمكن أن يتأتي في ظرف أيام أو أشهر معدودة بل يحتاج الأمر إلى عمل دؤوب وجهد متواصل وتوعية دائمة .
كما أن الأمر ليس كما يفهمه البعض من أن عدة دورات في الحاسب الآلي على بعض التطبيقات يمكن أن تخرج لنا معلماً إلكترونياً ، فهناك العديد من المعلمين الذين يجيدون استخدام الحاسب الآلي إلى درجة الاحتراف ولكنهم غير قادرين على توظيف هذه المعرفة في العملية التعليمية والتربوية والممارسات الفصلية ، بسبب غياب فلسفة التعليم الإلكتروني واستراتيجياته.
ومنهم من يوظفها توظيفاً تقليدياً ، يسيء إلى التعليم الإلكتروني أكثر مما يفيده ، وذلك عندما تستخدم التقنية مع نفس ممارسات التعليم التقليدي فيكون بذلك كمن يلطخ وجه عجوز بمساحيق جميلة.
إن المعلم لكي يصبح معلماً إلكترونياً يحتاج إلى إعادة صياغة فكرية أولاً يقتنع من خلالها بأن طرق التدريس التقليدية يجب أن تتغير لتكون متناسبة مع العلم المعرفي الهائل التي تعج به كافة مجالات الحياة ، ولا بد أن يقتنع بأنه لن يصنع وحيداً رجال المستقبل الذين يعول عليهم المجتمع والأمة في صنع الأمجاد وتحقيق الريادة.
إذاً لابد له من تعلم الأساليب الحديثة في التدريس والاستراتيجيات الفعالة والتعمق في فهم فلسفتها وإتقان تطبيقها ، حتى يتمكن من نقل هذا الفكر إلى طلابه فيمارسونه من خلال أدوات التعليم الإلكتروني.
يشير نبهان (2008: 29) إلى أن المعلم له أدوار جديدة، وهي:
1. تحقيق التعلم الفعال بأقصى مشاركة للطلبة
2. التنويع في أساليب التعليم لتتواءم والحاجات المتنوعة للطلبة، وتراعي الفروق الفردية بينهم
3. استخدام نشاطات يكون الطلبة فيها هم المحور بحيث يملكون الخيارات ويتمكنون من تحديد مدى تحقيق أهدافهم
4. استخدام تطبيقات من الحياة اليومية بحيث تربط ما يتعلمه الطلبة بحياتهم العملية، وبما يمكن البناء عليه مستقبلا.
قال ابن عبد العزيز(2008: 14) أن دور المعلم يتغير من مجرد ناقل للمعلومات إلى معلم قادر على القيام بدور الميسر والموضح والمقوم والمرشد والمدرب والمحتدى والقائد البناء، ويوضح شكل تلك التحولات كما يلي:
الممارسات التربوية من إلى
الأنشطة الصفية التمركز حول المعلم التمركز حول المتعلم
دور المعلم قارىء للحقائق، ومصدرا وحيدا للمادة التعليمية متعاون، متعلم، مرشد، ومدرب ...
دور المتعلم مستمع ومتلق للمعلومات متعاون، مكتشف، باحث وخبير فى المادة التعليمية
الأهداف التعليمية التركيز على الحقائق بناء العلاقات المساعدة على الابتكارية في الأداء
مفهوم المعرفة مجرد تراكم للحقائق بنائية هادفة
دليل النجاح كمية الحقائق التي يستطاع تذكرها الجودة فى الفهم
التقويم خطى – معياري المرجع غير خطى – محكي المرجع
ويمكن تلخيص كل من التحولات التي تحدث فى النموذج لاستخدام تكنولوجيا في ثمان تحولات تتمثل فيما يلي:
1. من التعلم الخطى إلى التعلم غير الخطى متعدد الوسائط
2. من التدريس إلى البناء والاكتشاف
3. من التمركز حول المعلم إلى التمركز حول المتعلم
4. من الحفظ إلى معرفة طرق الوصول إلى المعرفة (كيف تتعلم)
5. من التعليم المدرسي إلى التعليم مدى الحياة وفي أي مكان
6. من التعليم المفروض على الجميع إلى التعليم المكيف بحسب طبيعته
7. من المدرسة كمكان تعذيب إلى المدرسة كمصدر للمتعة
8. من المعلم كمرسل إلى المعلم كميسر لحدوث التعلم.
ويشير زين الدين (330:2007) إلى تحسين مستوى الكفايات في تكنولوجيا المعلومات للمعلمين الجدد في فصول التعليم أنه :
1. يجب على مؤسسات الإعداد التربوي رفع مستوى دمج التكنولوجيا في برنامج الإعداد بشكل عام.
2. يجب أن يتم تشجيع وتدعيم أعضاء هيئة التدريس لوضع نماذج لدمج التكنولوجيا.
3. يجب أن تعهد كليات التربية بخطة في تكنولوجيا المعلومات تركز على دمج هذه التكنولوجية في عمليتي التعليم والتعلم وليس على توفير الأجهزة والتسهيلات التكنولوجية.
وللمعلم في عصر الانترنت دور مرتبط بأربع مجالات (نصر، 123:2007) هي :
1. تصميم التعليم
2. توظيف التكنولوجيا
3. تشجيع تفاعل الطلاب
4. تطوير التعلم الذاتي
ط. الفرق بين التعليم الإلكتروني والتعليم التقليدي
الفروقات بين التعليم التقليدي والتعليم الإلكتروني:
الرقم نموذج التعليم التقليدي نموذج التعليم الإلكتروني
1 المدرس هو المصدر الأساسي للتعليم المدرس هو موجه ومسهل لمصادر التعليم
2 المتعلم يستقبل أو يستسقى المعرفة المتعلم يتعلم عن طريق الممارسة والبحث الذاتي
3 المتعلم يعمل مستقلا بدون الجماعة (إلى حد ما) المتعلم يتعلم في مجموعة ويتفاعل مع الآخرين
4 كل المتعلمين يتعلمون ويعملون نفس الشيئ المتعلم يتعلم بطريقة مستقلة عن الآخرين وحسن ظروفه
5 المدرس يتحصل على تدريب أولى ومن ثم على التدريب عند الضرورة المدرس في حالة تعلم مستمر أو متواصل حيث يبدأ بالتدريب الأولى ويستمر بدون انقطاع
6 المتعلم المتميز يستكشف ويعطى له الفرصة في تكميل تعليمه المتعلم له فرصة الحصول على التعليم والمعرفة بدون عوائق مكانية أو زمانية ومدى الحياة
7 يعتمد على الحفظ والاستظهار ويركز على الجانب المعرفي لدى المتعلم على حساب الجوانب الأخرى يعتمد على طريقة حل المشكلات وينمي لدى المتعلم قدرته الإبداعية الناقدة
8 المعلم ناقل وملقن للمعلومات دور المعلم هو الإرشاد والتوجيه والنصح والمساعدة وتقديم المشورة
9 تقبل أعداد محدودة كل عام دراسي وفقا للأعداد المتاحة يسمح بقبول أعداد غير محدودة من أنحاء العالم

ي. الإختتام
تؤدي الإلكترونيات دورا هاما في حياتنا اليومية, مثل أجهزة الاتصالات والضوئيات ووسائل الإعلام ووسائل النقل والآلاف من الأجهزة الأخرى، إضافة إلى أن خطوط الإنتاج الضخمة، مهما كان نوعها أو المواد التي تنتجها. يتم التحكم بها بواسطة الإلكترونيات بأحجام كبيرة وكفاءة متدنية، حيث كانت تعتمد على الصمامات المفرغة كبيرة الحجم. ولكن مع مرور الوقت تطورت الإلكترونيات تطورا كبيرا أحجامها وزادت كفاءتها وأصبحت تطبيقاتها تنتشر في جميع أرجاء العالم.
كما على المعلم أن يجعل درسه مرغوبا فيه لدى الطلاب خلال طريقة التدريس التي يتبعها، ومن خلال استثارة فاعلية التلاميذ ونشاطهم . ومن الأهمية بمكان أن نؤكد على أن المعلم هو الأساس. فليست الطريقة هي الأساس، وإنما هي أسلوب يتبعه المعلم لتوصيل معلوماته وما يصاحبها إلى التلاميذ.
وأما دور المعلم في التعليم الإلكتروني، منها: متعاون ومتعلم ومرشد ومدرب وموجه ومسهل لمصادر التعليم.

المراجع العربية:
1. أحمد، حمدى بن عبد العزيز. 2008. التعليم الإلكتروني، الفلسفة-المبادئ-الأدوات-التطبيقات. دار الفكر، عمان – الأردن.
2. الجندي، زكريا يحيى وعلياء عبد الله . 2005. الاتصال الإلكتروني وتكنولوجيا التعليم. مكتبة العبيكان جامعة أم القرى- مكة المكرمة.
3. الصالح، صالح بن مبارك الدباسي وبدر الدين عبد الله . 2005. تكنولوجيا التعليم الماضي والحاضر والمستقبل. مكتبة الملك فهد، جامعة الملك سعود – الرياض.
4. زين الدين، محمد محمود . 2007. كفايات التعليم الإلكتروني. كلية المعلمين بجدة السعودية. جامعة قناة السويس – مصر.
5. عامر، طارق عبد الرؤوف . 2007. التعليم والمدرسة الإلكترونية . دار السحاب، جمهورية مصر العربية.
6. نبهان، يحيى محمد . 2008. الأساليب الحديثة في التعليم والتعلم . دار اليازوري العلمية، عمان- الأردن.
7. نصر، حسن بن أحمد محمود . 2007. تصميم البرمجيات التعليمية وإنتاجها. مكتبة الملك فهد – جدة.

المرجع الإلكتروني:
1. al-Musa, Abdullah bin Abdul Aziz. 2008. Antara Guru dan Media Elektronik. (http://www.al-soman.com/vb/archive/index.php/t-20440.html. Diakses 20 Juni 2009)
2. al-Zarkani, Kholil Hasan. 2007. Peran Guru dalam Pembelajaran Elektronik. Ringkasan Disertasi (Online). (www.ksu.edu.sa/sites/KSUArabic/Student. Diakses 21 Juni 2009)

* Saiful Mustofa, Sekretaris Program Magister PBA PPs. UIN Maliki Malang.
Hp. 081233434500. email: saifulmustofa@gmail.com

11 Agu 2010

شهر رمضان شهر الروح

كل عام وأنت بخير…نحن الآن في شهر رمضان، ورمضان شهر خاص انفرد بين الشهور بالصوم الذي يعني ترتيبًا مختلفًا للحياة اليومية، والعلاقات الإنسانية. اعتاد الناس على القول بأن رمضان (شهر الروح) ونحن نقول بل هو شهر الإنسان كله جسدًا وروحًا.


الأبحاث العلمية تؤكد أن الصوم يضبط وظائف الجسم، فيه راحة إجبارية للمعدة، وضبط للشهوة، وهما المدخل لكثير من متاعب الجسم في غير رمضان.


وهناك ارتباط كبير بين الغذاء والجنس وربط الله بينهما حين تحدث في القرآن عن الكافرين ووصفهم بأنهم: {يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ}... {محمد:12}.. والجنس من أعلى المتع الجسدية.


وفي الحديث إن مجاري الشهوة تضيق بالصوم، ومن الخبرة العملية فإن الجو الذي يشيع في رمضان يحصر الشهوة والسبل إليها طوال النهار- على الأقل.


طرق وجسور:


إذا كان الله سبحانه قد شرع الصوم، وفيه الامتناع عن الطعام من الفجر إلى المغرب، والغذاء يدعم الشهوة ويفتح الطريق أمامها فإننا ينبغي أن نفهم أن المداخل لتقوية الشهوة ليست هي الفم والغذاء فقط، بل السمع والبصر والكلام وحتى الخيال كلها مداخل.


وإذا كانت شياطين الجن مصفدة في رمضان؛ وبالتالي فإن الطرق إلى الشهوة تصبح أضيق، إلا أن الكباري والسكك الخلفية تزدهر وتتسع على من يسير فيها.


التنافس الشديد بين القنوات المحلية والفضائية على تقديم برامج تسلية الصيام، ثم برامج الليل حتى الصباح حوَّلت رمضان وصومه إلى أفعال فلكلورية طقوسية مظهرية، أكثر منها شعائر عبادية.


والأجواء الاجتماعية الحديثة خلّفت محدثات خرجت به عن معانيه وحكمه!! ويعنينا هنا فصل النهار عن الليل، وشغل الاثنين بما لا يعين على الاتساق مع روح الشهر.


صوم الليل والنهار:


رمضان تدريب عملي مكثف على الضبط والانضباط كان رسول الله صلى لله عليه وسلم يُقبِّل زوجاته في رمضان، ولكن كان يملك شهوته فلا يذهب إلى ما وراء ذلك، فمن استطاع ذلك فليفعل وإلا فإن السلامة لا يعدلها شيء.


وينفرد الجماع في نهار رمضان- دون بقية المفطرات- في أن كفارته الجمع بين القضاء والفدية، والأخطر أنه إفساد لبرنامج التدريب المتوازن الذي تدور حوله فلسفة رمضان ونظامه.


وكذلك فإن الامتناع المقصود عن المعاشرة الزوجية تماماً في ليالي رمضان ليس مستهدفاً ولا مطلوباً بل أحلَّه الله ليكتمل الدرس، ويكون التدريب بالكف أو الإقدام ليس رهين الفعل المكفوف عنه أو المقدم عليه في ذاته قبولاً أو رفضاً ( بل بالعكس..فالغذاء عماد الحياة، والجنس أعلى الشهوات المباحة) ولكن لأن الله الذي أباح الغذاء، وزين الشهوات الحلال هو نفسه الذي أمر بالكف عنها على نحو محدد بشكل محدد، فبالتالي نتعلم أن الأفعال لا تكتسب الحسن والقبح أو الإمكانية من عدمها بذاتها أو بنفعها أو حسب تقدير أو هوى الإنسان، وإنما امتثالاً وطاعة وتسليمًا لأمر الله سبحانه.


هذه الطاعة يجب أن تحكم الإنسان فلا يقدم أو يمتنع إلا بما يوافقها، لا زعمًا لورع كاذب ومخالفة لفطرة الله وسننه في الجسم والخلق، فبعض النساء يمنعن نزول دم الطمث بتناول حبوب منع الحمل ليمتنع الدم ويصمن، والفقه المعاصر غالبًا لا يرى في هذا بأسًا شرعيًا ما دام ليس على المرأة ضرر صحي من تناول الحبوب؛ ولكننا نرى أن الأمثل نفسيًا وجسديًا ترك الأمور على طبيعتها.. فالعبرة في رمضان والأجر يكون على الامتثال لأمر الله وليس على فعل الصوم، بدليل أنه يحرم على المريض الذي يضره الصوم أن يصوم، كما يستحسن للمسافر أن يفطر.


كما تدل الأبحاث الحديثة على أن تعاطي الهرمونات الموجودة في حبوب منع الحمل ينطوي على أضرار محتملة، ولو بعيدة المدى. ونرى أن حياة المرأة الجنسية في رمضان ينبغي أن تسير على طبيعتها، وبالنظام الذي حدده الله سبحانه دون تدخل إلا للضرورة القصوى.


مراجعة الموازين:


على غير ما تقول به ديانات مثل: المسيحية أو البوذية فإن الإسلام لا يفهم العلاقة بين الروح والجسد أو المعنوي والمادي في الإنسان من زاوية أن هناك صراعًا بين هذا وذاك.


الإسلام يقول بأن الجانبين من الله، والتكامل والتوازن هو سمت العلاقة المطلوبة بينهما. والمعيار (إن لبدنك عليك حقًا، وإن لأهلك عليك حقًا، وإن لربك عليك حقًا.. فأعط كل ذي حق حقه) ورمضان مناسبة لمراجعة ميزان الحقوق وإعادته إلى النصاب الصحيح.


الصوم يقول: إن لك جسدًا، وهذا الجسد له حقوق ومطالب، كما أن عليه واجبات ومسئوليات، ويحدد برنامجًا مقترحًا للتعامل مع هذا الجسد ورغباته بغية تلبية هذه الرغبات دون قمع أو إفراط، دون إلغاء يستقذرها أو استسلام يعطيها دفة القيادة. إنه الترويض لكي يملك الإنسان شهوته، ولا تملكه.


فرمضان يضبط لك جسدك، وروحك، وعلاقتك بأهلك، والفقراء والمساكين؛ لتراجع حساباتك، وتعطي كل ذي حق حقه.


تستطيع…ولكن:


وفي الصوم انتصار لإرادة الإنسان وإعلاء لقدرته على ضبط أموره، وهو موسم يعيد الثقة بالنفس لمن فقدوها أو يكادون.


بالإضافة إلى شيوع النميمة، والصخب، ومجالس تبديد الأعمار فيما لا ينفع يأتي إلينا من يقول: لا أستطيع التوقف عن التدخين، ويقول آخر: شهوتي ورغباتي الجنسية تشغل ذهني، وتبدد جهدي ووقتي ولا أستطيع التوقف عن التفكير، أو عن الرغبة وأتورط في مواقف محرجة بسبب هذا.


وقد تشتكي حواء من مثل هذا أيضا، والشكوى محورها (لا أستطيع..لا أستطيع).


والصوم يحاول أن يقول لك: بل تستطيع ولكنك ربما لا تريد وربما لا تحاول بجدية وربما لا تثق بقدراتك الحقيقية، أو أنك حتى لا تعرفها ولا تعرف نفسك.


لابد من الرغبة والقدرة والإرادة، وكلها مترابطة، والصوم يتعامل معها جميعًا، فيتدخل في نشأة الرغبات ويضبطها ويدعم الإرادة ويقويها، ويضاعف القدرة ويعيد الثقة فيها. وإذا كان هذا في الصوم كافة، فإن رمضان يوفر لك مناخاً عاماً تسري فيه هذه الروح في المجتمع حولك لنتساند ونتعاضد سوياً لتحقيق ذلك، فلا تشعر أنك تجاهد نفسك وحدك.


ومن هنا نقول: إن العامل النفسي العام يتأثر بالصوم على نحو إيجابي يدعم وينظم العامل الجسماني (والعلاقة الزوجية) على طريق التوازن والتكامل والاعتدال.


والإنترنت يساعدك:


الصائمون خارج العالم الإسلامي في جو مختلف عن المقيمين فيه، والإنترنت يخلق مناخًا يمكن أن تشعر معه، وكأنه في أرض المسلمين وبينهم: هناك برامج ترفع لك الأذان في موعده والمواقع العربية والإسلامية تتنافس في تقديم ما تشعر معه بروح ومذاق رمضان.


وكما أن الإنترنت يمكن أن يكون مدخلاً لكثير من الهذر واللغو في الـ Chat، وفتن و سقطات أكبر في المواقع الإباحية، فإنه يمكن أن يكون عنصرًا فعالاً في إحاطتك بجو رمضان عبر الأثير، وفي كل بقاع الدنيا.


وبالتالي لا تغلق الشبكة في رمضان ولكن اذهب إلى من يعينك على الاستفادة منه وعلى الانتظام في برنامجه التدريبي.


أتمنى لكم جسدًا مستريحًا وروحًا طيبة، ونفسًا مطمئنة بصوم مقبول، ودعوة مستجابة عند الإفطار.. أرجو أن يكون لي منها نصيب


المصدر: موقع إسلام أون لاين
15 jam yang lalu • Laporkan

20 Jul 2010

Hikmah Bulan Sya'ban

Hikmah di balik puasa Sya’ban adalah:
1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkalah manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban. Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.

3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 234-243).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut. “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya (terkabulnya) do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad)
Malam Nishfu Sya’ban, Malam Diturunkannya Al Qur’an

Di antara kaum muslimin ada yang menganggap bahwa malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) adalah malam yang istimewa. Di antara keyakinan mereka adalah bahwa malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Sandaran mereka adalah perkataan ‘Ikrimah tatkala beliau menjelaskan maksud firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4)
Yang dimaksud dengan malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar, menurut mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ikrimah –semoga Allah merahmati beliau- memiliki pendapat yang lain. Beliau berpendapat bahwa malam tersebut adalah malam nishfu sya’ban. (Zaadul Maysir, 5/346)

Namun pendapat yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu turun pada malam nishfu Sya’ban adalah pendapat yang lemah karena pendapat tersebut telah menyelisihi dalil tegas Al Qur’an. Ayat di atas (surat Ad Dukhan) itu masih global dan diperjelas lagi dengan ayat,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an.” (QS. Al Baqarah:185). Dan dijelaskan pula dengan firman Allah,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada Lailatul Qadr.” (QS. Al Qadr:1)

Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Klaim yang mengatakan bahwa malam yang penuh berkah (pada surat Ad Dukhan ayat 3-4) adalah malam Nishfu Sya’ban –sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan lain-lain-, tidak diragukan lagi bahwasanya itu adalah klaim yang jelas keliru yang menyelisihi dalil tegas dari Al Qur’an. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa saja yang menyelisihi al haq (kebenaran) itulah kebatilan. Sedangkan berbagai hadits yang menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan malam tersebut adalah malam nishfu Sya’ban, itu jelas-jelas telah menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas dan hadits tersebut sungguh tidak berdasar. Begitu pula sanad dari hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul ‘Arobi dan para peneliti hadits lainnya. Sungguh sangat mengherankan, ada seorang muslim yang menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas, padahal dia sendiri tidak memiliki sandaran dalil, baik dari Al Qur’an atau hadits yang shahih.” (Adhwaul Bayan, 1552)

19 Jul 2010

Fadlilah Bulan Sya'ban

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, saat ini kita telah menginjak bulan Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).

Keutamaan Bulan Sya’ban
Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathoif Al Ma’arif, 235)

Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban
Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156).

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)? Asy Syaukani mengatakan, “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan

dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban? An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ”(Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Semoga ada manfaatnya buat renungan di bulan Sya'ban sekarang ini… Dalam Rangka Menyongsong Bulan Suci Ramadlan…